Arsip Kategori: Buku

Perjalanan Buku Ikhlas Paling Serius

Ikhlas paling serius sebelum
Sebelum ditangan Penerbit

Ikhlas Paling Serius


“Buku harus dijadikan kapak untuk mencairkan laut beku dalam diri kita.” Franz Kafka

Perjalanan buku ini seperti narasi saja, awalnya cuma dicetak secara mandiri oleh Penulisnya dikami, hingga akhirnya diambil oleh Penerbit Besar, yaitu Penerbit Media Kita. Tepatnya akan terbit pada tanggal 26 Maret 2021 nanti.

Menjadi Menarik : Dari Mempublikasikan Secara Mandiri Hingga ke Penerbit Besar.


Tak ayal, ini jadi pengalaman menarik buat kami. Memang tidak pernah menyangka, buku ini awalnya cuma dicetak 100 buku lanjut kedurasi pesanan yang jumlah berbeda.

Akhirnya bertemu juga dengan penerbit yang tepat.

setelah diterbitkan media kita
Setelah di Penerbit Media Kita

Meski pada akhirnya kami tidak bisa mencetaknya lagi. Lah wong sudah dipegang oleh Penerbit. Karena Penerbit Buku dan Percetakan Buku adalah 2 hal yang berbeda.

Jangan Ragu

Bagi para penulis janganlah pernah ragu, teruslah berkarya. Masih banyak jalan bagi karyanya dibaca oleh para pembaca buku. Bisa lewat jalur mandiri seperti ini atau bisa juga Self Publishing (Penerbit Indie). Terlebih dunia buku memiliki banyak sekali genre buku.

Lihat Juga : Macam-macam Genre Buku.

Tentu salah satu tips yang paling penting adalah terus berkarya dan terus mengembang diri, jangan pernah berhenti dititik nyaman. 🙂

Buku Cetak vs Ebook

Pandangan Mengenai Buku Cetak Dengan Ebook

Buku dan ebook sebenarnya bukan masalah baru. Ebook hadir beberapa tahun belakangan, dan masih bertahan hingga kini. Namun tetap saja menjadi dilema penggunaannya.

Sekarang ini sudah beberapa Penerbit di Indonesia mulai beradaptasi dengan ebook, semenjak adanya Aplikasi Google Play Books (maaf tidak tahu soal aplikasi iPhone, apalagi Kindle)

kindle technology amazon tablet
Photo by freestocks.org on Pexels.com

Sayangnya baik ebook dan buku cetak belum dipandang betul di Indonesia. Yah bisa dibilang, karena budaya malas baca. Untungnya perkembangan literasi visual cukup bagus, dengan maraknya penggunaan YouTube, yang memiliki konten edukasi didalamnya. Tapi ada beberapa yang menyesatkan juga.

Bicara budaya membaca sebenarnya kebutuhan krusial, tidak cukup hanya melek huruf saja. Melek secara pemikiran kritis sangat perlu.

Sebenarnya kehadiran ebook sangat membantu sekali keberadaan buku cetak. Kita bisa melihat beberapa halaman versi ebooknya sebelum memutuskan membeli bukunya. Kalau ditoko buku belum tentu bisa semudah ini, terkadang harus buka segel plastiknya dahulu, baru bisa melihat ke dalam isi bukunya.

Kalau di luar sana ,Penerbit sangat memanfaat sekali fitur ini. Customer sering kali melihat dahulu ebooknya di Google Play Books, baca beberapa halaman gratisnya. Lalu customer dapat memutuskan membeli buku fisiknya di market place.

Buku Cetak

Buku cetak memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki nuansa buku secara sempurna. Kita dapat merasakan memegang buku, membalikkan halaman buku satu persatu, hingga merasakan bentuk serat kertas melalui sentuhan jari.

Terlebih buku cetak, pilihan terbaik dalam membaca sebelum kita tidur, tidak membuat ketegangan mata dibandingkan membaca melalui telepon genggam. Alih-alih ingin membaca buku lewat telepon genggam, malah tambah sulit tidur.

Kalau bicara, dibawa kemana-mana, pastinya ebook lebih mudah. Cukup mengandalkan telepon genggam anda saja sudah cukup. Tidak repot membawa banyak buku, untuk menjalani keseharian.

Lihat Juga : Ukuran Standar Buku.

Ebook

Ebook memiliki desain yang berbeda dengan buku cetak, layout bukunya saja berbeda jauh dengan buku cetak. Di Aplikasi Google Playbook sendiri, mengenalkan tata letak model Flowing Text, jauh berbeda dengan tampilan buku umumnya.

Adaptasi tampilan ebook sangat membantu proses membaca ebook, tapi sayangnya tidak merasai sudah berapa halaman sudah membaca. Tidak dipungkiri tebalnya sebuah buku, menjadi tantangan sendiri dalam motivasi membaca buku lebih banyak lagi.

Lihat juga : Kelemahan Ebook.

Perbandingan Harga

Ebook sendiri, harusnya lebih murah dibandingkan buku cetak. Entah kenapa di Indonesia, harganya masih sama dibandingkan buku cetak. Hal ini menjadi penghalang besar, perkembangan ebook di Indonesia.

Para pembaca buku tentunya mengharapkan harga yang lebih murah dari buku cetak. Mungkin ada alasannya lain, terlebih buku bajakan di Indonesia sangat merajalela. Tentu akan mengkhawatirkan, bagi penerbit sendiri. Niatnya mencari tambahan untung (lebih tepatnya bertahan, karena banyak sekali penerbit sekarang yang gulung tikar) malah tidak mendapatkan apa-apa.

Tapi ada baiknya mempertimbangkan harga yang didapat karena memperoleh tambahan informasi serta pengetahuan dari buku. Pengetahuan adalah investasi terbesar bagi pribadi.

Kesimpulan

  • Buku cetak membuat merasakan lebih fisik buku, dapat memegangnya, membalikkan halamannya, serta merasakan serat kertasnya.
  • Buku cetak lebih bersahabat dan nyaman untuk mata, tidak membuat mata tegang dan kelelahan.
  • Buku cetak tidak memerlukan sama sekali listrik.
  • Ebook dapat dibawa kemana-mana beberapa judul buku dalam 1 perangkat saja.
  • Ebook bisa disimpan dengan baik dalam satu gadget, tidak memerlukan sama sekali rak buku, tidak ada resiko rusak.
  • Ebook dapat dibaca dalam tempat gelap, tidak membutuhkan penerangan, tapi resikonya tinggi juga, terhadap mata.
Lihat Juga : Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku.

Beberapa Macam Genre Buku

Prakata

opened book on white cloth near dandelion flowers
Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Memilih sebuah buku yang baik sebenarnya tidak ada patokannya. Tidak ada buku yang tidak baik, buku terlaris pun juga tidak melulu bisa dikatakan buku yang bagus. Bagi segelintir orang, buku memiliki manfaat, nilai, dan arti tersendiri.

Membicarakan buku, seperti membicarakan perjalanan panjang, tidak tahu kini telah ada berapa buku yag sudah tercipta dimuka bumi ini, dan berapa banyak buku yang sudah terbaca oleh orang-orang, belum lagi, berapa banyak buku yang telah punah ditelan oleh zaman.

Sebutlah novel tertua didunia itu The Tale of Genji, tidak jelas juga novel ini sudah berapa kali dibaca dan tercetak, dan berapa orang yang hidupnya dipengaruhi buku tersebut.

Bagi yang ingin mengeluti dunia baca, ada baiknya mengenal genre buku dahulu, tapi sebenarnya tidak tepat juga, langsung pergi saja ke toko buku minimal akan menemukan buku yang menarik dari toko buku tersebut.

Genre Buku itu ada banyak macamnya, dan terus berkembang. Tidaklah tepat mengatakan berapa jumlah genre buku. Kenapa? Karena buku adalah hasil pemikiran manusia, yang tentunya akan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Ada beberapa macam Genre Buku yang umum dibaca yaitu :

1. Aksi dan Petualangan

Seperti dalam dunia film saja, genre ini selalu membuat kegembiraan. Karena karakter utama dalam buku selalu menemukan sesuatu yang beresiko dan punya masalah terus 🙂 (kasihan sekali hidupnya). Akhirnya dapat menyelesaikan semua resiko dengan jalan berbahaya dan terselesaikan dengan cara yang tidak memungkinkan.

2. Klasik

Sebutlah buku karya Charles Dickens, bukunya terbit pertama kali berjudul The Pickwick Papers tahun 1836. Kalau admin sendiri baru sempat membaca Great Expectations dari Charles Dickens, buku ini selalu ada dibeberapa rak buku toko buku ternama. Seperti karya sepanjang masa saja.

Genre Klasik sebenarnya sangat menarik, kadang yang menjadi pertanyaan bagaimana orang dahulu kala dapat menulis dengan pemikiran yang sangat jauh dan bagus sekali .

3. Komik

Kok komik masuk ke dalam satu genre buku? Cerita dalam komik itu disajikan dalam bentuk gambar yang menarik, berurutan yang disajiikan secara naratif loh. Kita dapat membaca tulisan-tulisan lewat “balon-balon” kata pada setiap gambarnya.

4. Detektif dan Misteri

Dalam genre ini acapkali berkisar pada tindak kejahatan yang harus diselesaikan. Salah satu yang kita kenal karya Sir Arthur Conan Doyle melalu karyanya The Adventures of Sherlock Holmes.

Kepiawaian dalam memecahkan teka-teki, menjadi bagian yang menarik dalam membaca buku genre ini. Kita dibimbing kedalam hal yang tidak mungkin ditemukan akal sehat.

5. Fantasi

Genre ini umumnya berlatarkan pada dunia khayalan fiksi, yang mencakup elemen-elemen penting dari sihir, mitologi, atau supernatural. Genre ini selalu berkaitan erat dengan genre adventure dan genre lainnya.

6. Fiksi Sejarah

Genre ini mengambil setting waktu tertentu dari masa lalu yang tentunya tidak sesuai dengan kenyataan realnya. Bahkan sangat bertentangan dengan sejarahnya, dan ada juga yang terlihat sangat mirip juga.

Sebutlah salah satu karya Gabriel Garcia Marquez dalam One Hudred Years of Solitude, ini termasuk fiksi sejarah yang cukup menarik untuk dibaca.

7. Horor

Ih serem, genre ini sangat terkesan dengan sesuatu yang menyeramkan, membuat berdegub kencang. Genre ini tidak hanya membuat kita tidak nyaman tapi menggiring kita terus dalam penasaran yang jauh. Kalau mengenai Horor yang tidak jauh masternya Stephen King.

8. Sastra Fiksi

Genre ini sangat luas sekali, bisa mencakup banyak genre lainnya, Sastra Fiksi mengacu kepada gaya penulisan artistik pengarang, yang bisa membangkitkan pemikiran mendalam melalui cerita dalam buku tersebut.

9. Romance

Ingin rasanya melewati bagian genre ini, Genre yang berkisar kisah percintaan romantis ini, mempunyai banyak penggemar dari berbagai kalangan usia. Genre ini membuat hati kita bisa hangat, berbunga-bunga, bahkan bisa larut kedalam kesedihan.

10. Fiksi Ilmiah (Sci-Fi)

Kadang sering dianggap sama dengan genre fantasi, yang membedakan dari cerita fiksi ilmiah adalah sangat bersandar pada tema teknologi dan sains masa depan.

11. Cerita Pendek

Cerita pendek adalah prosa singkat yang secara jelas lebih pendek dari novel. Genre ini menceritakan narasi dan rangkaian adegan yang singkat. Biasanya genre ini dibukukan dalam kumpulan cerpen.

12. Thriller

Genre ini bersifat menegangkan, menampilkan upaya tokoh utama untuk menghentikan dan mengalahkan penjahat, yang berupaya untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri, daripada mengungkap kejahatan.

13. Fiksi Perempuan (Women’s Fiction)

Fiksi Perempuan ditulis khusus untuk pembaca perempuan, yang seringkali merefleksikan pengalaman perempuan dalam masyarakat dan pribadinya.

14. Biografi dan Otobiografi

Dari namanya kita sudah tahu mengenai genre ini, yang mengungkap sejarah kehidupan seseorang, entah itu baik atau buruknya. Yang pasti bisa mengungkap sejarah tertentu.

15. Esai

Ditulis dengan sudut pandang penulisnya yang merefleksikan topik tertentu entah kritik atau cara pandang terhadap tema tertentu. Tema ini sangat menarik untuk dibaca dan menambah wawasan baru juga.

16. Sejarah

Genre buku ini mencatat letak dan moment tertentu dalam sejarah, yang tentunya bertujuan untuk menginformasikan serta mendidik pembacanya. Dengan buku sejarah kita dapat melihat bagian waktu dunia tertentu.

17. Memoir

Berbeda dengan otobiofrafi, memoar lebih fleksibel, tidak menampilkan catatan kronologis. Lebih fokus kepada momen yang dapat memberikan pesan dan pelajaran tertentu pada pembaca. Salah satu buku yang bisa dibaca karya Michelle Obama yaitu Becoming.

18. Puisi

Banyak sekali puisi yang sudah dibukukan, genre ini salah satu genre yang termasuk dinikmati, karena puisi termasuk bentuk seni tulis yang dapat membangkitkan atau memberikan kedalaman emosi. Ada banyak pesan yang tersembunyi dalam puisi, yang sulit ditafsirkan.

19. Self-Help

Genre ini berfokus kepada kesehatan emosional, atau spiritual. Buku-buku genre ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan.

Lihat Juga : Masalah Dalam Mencetak Buku.

Apa Sih? Jilid Lem Panas itu

jilid buku lem panas

Jilid Buku Lem Panas

Penjilidan adalah proses menyatukan lembaran kertas-kertas secara berurutan menjadi sebuah buku. Dalam penjilidan sendiri membutuhkan adanya lem, sebagai media perekat lembaran kertas tersebut dengan cover buku.

Dalam proses membuat buku, tidak dapat dipungkiri membutuhkan adanya lem. Ditempat fotocopy banyak memakai lem untuk keperluan jilid, entah itu merek Aibon, Reskol maupun Fox, ya, lem-lem tersebut menjadi standar dalam mengelem sebuah buku.

Bagaimana dengan lem panas sendiri? Lem panas salah satu jenis perfect binding, selain jahit benang.

Karena kebutuhan buku yang relatif banyak dan memerlukan waktu cepat, maka lem panas ini hadir untuk menunjang dalam cetak buku.

Lem panas dapat kering dengan sempurna dalam waktu 2 jam, dibandingkan jenis lem Aibon, Reskol, maupun Fox (lem ini membutuhkan seharian untuk kering sempurna)

Sayangnya lem panas sendiri, membutuhkan adanya mesin khusus untuk menjilid. Tidak dapat hanya mengandalkan keterampilan tangan saja.

Keuntungan Jilid Lem Panas Pada Buku.

  • Menarik secara bentuk buku.
  • Kekuatan jilidnya sangat kuat
  • Daya tahannya sangat lama
  • Pada punggung buku bisa ditulis nama judul, pengarang, dan penerbit.

Poin diatas dapat dijabarkan nilai lebih lem panas, kenapa menarik? Punggung buku menjadi siku dengan sempurna, dan keras pada bagian terlemnya.

Kalau kita lihat buku-buku pelajaran atau novel yang biasa kita baca. Semua itu memakai jilid lem panas loh. Penting sekali buat buku yang dijual menggunakan lem panas,otomatis meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap buku tersebut.

Lihat juga : Ukuran Standar Buku.

Masalah Dalam Mencetak Buku

Persoalan Dalam Mencetak Buku

Dicetak atau diprint, apalah itu istilahnya, bukanlah perkara mudah untuk menjelaskannnya. Dalam mencetak tidak melulu langsung cetak begitu saja. Kalau langsung mencetak tanpa mengkoreksi filenya terlebih dahulu, alih-alih ingin cepat selesai malah buku menjadi berantakan tidak karuan.

Yup, mencetak buku bukanlah persoalan beruntung. Kalau hasilnya bagus bukan berarti karena Dewi Fortuna sedang bertengger didekat anda loh. Apalagi setiap file naskah tidaklah dalam kondisi yang sama. Ada berbagai persoalan dalam proses pembuatan sebuah buku yaitu :

green and black industrial machine
Photo by Wendelin Jacober on Pexels.com

1. Font Berubah (missing font)

Missing font adalah masalah yang paling umum, apalagi yang menggunakan purna rupa font dalam penulisan sebuah buku. Kalau lupa di embedded pada file PDF-nya, maka yang terjadi tidak semua jenis Font dapat tercetak.

Hal yang perlu digarisbawahi meski dalam file PDF-nya semua terlihat sudah pas tidak ada font yang hilang, pas dicetak pas dicetak bisa hilang loh, karena fontnya tidak tersedia dikomputer tukang cetaknya.

Solusinya pastikan font sudah ter-embed pada file anda.

2. Warna Tidak Pas

Nah bicara warna agak kurang PD nih, terlebih terbiasa cuma cetak hitam putih saja. Sebenarnya masalah warna sering terjadi, karena perbedaan tekstur kertas, yang dapat menyebabkan perbedaan daya serap tintanya.

Sekali-kali tengoklah tukang cat rumah bagaimana mereka bekerja, pada sisi-sisi tertentu, warna putih cat tidak maksimal, dibanding dengan sudut dinding yang lain. Pada bagian tembok kelembaban tinggi, pasti warna catnya kurang pekat.

Seperti inilah yang terjadi pada isi buku, khususnya antara book paper dan HVS. Warnanya sama tapi karena daya serap tinta dan warna dasar kertas berbeda, hasilnya akan berbeda. Jangan harap kertas book paper hasilnya berwarna pekat, kecuali pakai print laser, pasti hasilnya sama saja, kalau printer laser kan tintanya menempel tuh, bukan menyerap.

3. Kualitas Kertas Menurun Tiap Tahunnya.

Sebagai orang yang sering memakan asam garam pulp kertas. Tentu tahu sedikit mengenai kualitas kertas makin tahun makin turun. Mulai dari serat kertasnya hingga ketebalannya.

Ketebalan yang paling terasa menurun. Pernah berberapa kali mencetak ulang buku dengan judul yang sama, sangat merasakan ketebalan kertas menurut sedikit.

Lah wong kemarin mencetak ulang buku yang sama, tadinya tebal buku 2 cm sekarang jadi 1.9 cm buku. Sedikit sih, tapi kalau sampai 2 mm itu namanya kebangetan.

Belum lagi, bicara kekakuan kertas art carton. Kalau dahulu kertasnya sudah tebal dan kaku pula, sekarang jadinya kurang tebal dan agak lemas.

4. Waktu Yang Kepepet.

Bikin buku tidaklah sebentar, bisa makan waktu 3-4 hari (itu kalau kita yang buat). Tidak bisa cepat? Ya susah juga jawabnya.

Seringnya, sudah waktunya besok hari buku itu harus tercetak. Barulah kita mencari percetakan buku.

Percetakan Buku itu sebenarnya berbeda dengan Print Shop atau Tempat Fotocopy, meskipun beberapa tempat tersebut mampu mencetak buku dalam satu waktu, namun segi biaya cukup fantastis.

Nah mengenai proses mencetak beberapa judul buku dalam satu waktu itu agaklah rumit. Pertama buku di layout pra cetak dahulu, kedua proses cetak, ketiga penjilidan, keempat packaging.

Kalau cuma 1 judul buku yang dikerjakan oleh Percetakan Buku perhari ya bisa cepat, tapi kalau mereka ada 50 judul buku saja perhari, pastilah susah mengatur proses cetak semua buku itu

Akhirnya

Yang paling penting sih kita harus memahami bagaimana cara mencetak buku, agar tidak terjadi kesalahan fatal. Terlebih buku terdiri dari susunan beberapa halaman, salah satu halaman saja, bisa merevisi seluruh halaman buku loh.

Semua permasalahan diatas adalah hal yang paling umum dihadapi dalam mencetak buku. Sebenarnya masih banyak lagi masalah dalam mencetak buku yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kurang lebihnya kami mohon maaf.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Beberapa Kelemahan Ebook

black tablet computer behind books
Photo by Perfecto Capucine on Pexels.com
“I love the smell of book ink in the morning.” Umberto Eco.

Kutipan diatas itu tidaklah bohong aroma buku memberikan rasa nyaman tersendiri. Saya sendiri sesekali mencium aroma buku disela lelah membaca buku. Lain dengan ebook tidak memiliki aroma seperti buku.

Ebook adalah sebuah buku dalam format digital (file) yang hanya bisa digunakan melalui perangkat elektronik seperti komputer dan telepon pintar. Ebook hadir semenjak adanya komputer, dan makin populer ketika telepon pintar (yang berbasis android dan ios). Ada juga buku dalam format audio, menarik sih ketika mendengarkannya, sayangnya masih dalam bahasa inggris, tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Baik ebook dan buku audio, perkembangannya tidak terlalu signifikan, belum bisa menggantikan buku fisik sebenarnya. Memang buku dalam bentuk susunan kertas belum bisa digantikan hingga kini.

Tidak salah juga, kalau harus membicarakan sisi kekurangan ebook. Berikut beberapa hal yang sudah saya rangkum :

Tidak Nyaman Dibaca

Bicara kenyamanan adalah hal pertama yang paling penting, sebelum menggeluti kegiatan apapun. Membaca lewat telepon genggam masih terasa kurang nyaman, karena susunan teksnya yang begitu rapat dan padat. Jarak antar kata terlalu dekat, dan spasinya sedikit.

Belum lagi karena ukuran layar yang kecil, ukuran font pun jadi ikutan kecil. Makin sulit saja deh membaca ebooknya. Kalau memiliki dana lebih cobalah pakai Tab.

Sulit Konsentrasi

Membaca lewat perangkat telepon genggam akan ada saja gangguan konsentrasi. Entah itu pesan WhatsApp, dan notifikasi aplikasi tertentu.

Kalau membaca lewat telepon genggam harus menonaktifkan notifikasi, agar konsentrasi tidak mudah buyar. Namun tetap saja keinginan melihat aplikasi ada.

Masalah Kesehatan Mata

Kita sudah tahu, berlama-lama dilayar telepon genggam atau komputer, dapat membuat mata cepat lelah. Belum lagi dampak buruk dari radiasi layar perangkat elektronik. Masih menunggu beberapa kurun waktu mencapai teknologi layar sempurna dan aman untuk mata.

Sulit Dibaca Ketika Terkena Sinar Matahari.

Nah ini, pantulan cahaya matahari pada layar, menyebabkan terbatasnya tempat baca. Selain dikamar, membaca buku acapkali dilakukan diberanda rumah.

Kalau pancaran cahaya terlalu tinggi, pantulan cahaya cukup menyilaukan mata ini.

Mudah Dibajak

Kenapa mudah dibajak, ketika buku dalam bentuk file akan mudah berpindah-pindah tangan, terlebih ukuran filenya kecil. Seperti kita tahu hal ini akan merugikan penerbit serta penulis. Dan lagi penyebarannya sangat banyak didunia maya, dibandingkan buku fisik. Kita sering beranggapan dapat diunduh dengan bebas berarti legal, itu salah besar.

Memerlukan Perangkat

Meski telepon genggam adalah alat yang sudah familiar sekarang ini, tetap saja belum terjangkau diberbagai kalangan.

Kalau buku fisik, meski kita tidak mampu membelinya. Kita masih bisa meminjamnya diberbagai perpustakaan terdekat.

Rawan Dari Virus

Alih-alih mencari ebook gratisan, malah beresiko perangkat kita terkena virus. Ada banyak situs yang menyediakan ebook gratis, tapi sisi keamanannya sangat rendah. Hal ini menyebabkan perangkat anda rentan terkena virus. Belum lagi bila kita mengambil dari komputer yang sudah terkena virus, komputer kita bisa terkena virus juga.

Untuk mengunduh ebook dengan legal dan aman sebenarnya kita bisa. Salah satunya di Project Gutenberg, disana ada 60.000 ebook gratis dan tentunya legal.

Lihat juga : Toko Buku Indie.

Menjelajahi buku on demand

printed musical note page
Photo by Pixabay on Pexels.com

Prakata

Membuat sebuah buku dari dulu membutuhkan waktu yang cukup lama, ada proses cetak isi, kemudian cetak cover, laminasi cover, proses jilid, pemotongan buku, lalu berakhir di pengemasan plastik shrink.

Sejak awal, proses percetakan buku menggunakan sistem cetak offset dari masa ke masa. Baru belakangan ini cetak digital merambah ke dalam industri cetak Indonesia.

Cetak digital sendiri adalah adaptasi mesin printer konvensional (rumahan dan kantor) menjadi skala industri. Yang tadinya printer berukuran kecil, sekarang menjadi berukuran besar.

Kita cukup membayangkan, printer yang ada dirumah anda berukuran 20 kali lipat besarnya dan lebih berkali-kali lebih cepat.

Industri cetak digital mengenalkan platform “Print on demand”, yang berarti mencetak sesuai dengan permintaan. Mau sedikit atau jumlah banyak tidak masalah sama sekali.

Nah, kalau untuk buku yang dapat mencetak buku sesuai permintaan disebut “Book On Demand” atau “Buku On Demand”.

Bagaimana cara cetak buku on demand bekerja?

Pertama, cetak isi buku dahulu, lalu menghitung tebal buku untuk persiapan cetak cover. setelah cover selesai dicetak langsung dilaminasi. Kemudian proses penjilidan buku, pemotong buku sesuai ukuran, terakhir packing buku. Selesai deh.

Cara cetak on demand sangat sederhana, cukup dengan file yang sudah tersusun rapi, langsung cetak saja. Persis seperti print dirumah saja.

Buku on demand, apa saja yang perlu diketahui?

  • Tidak perlu cetak banyak, satu buku saja bisa dicetak
  • Kualitas cetaknya setara atau sama dengan kualitas cetak offset
  • Efesien dari segi waktu dan tenaga
  • Hemat biaya cetak
Lihat juga : Harga Cetak Buku Print On Demand.

Cetak buku on demand vs cetak buku offset.

Nah ini yang paling rumit, bicara kualitas sama. Lalu manakah yang lebih baik? Kedua sama-sama baik dan bagus sih.

  • Pertama Cetak Buku Offset itu sangat hemat biaya jika kuantitas lebih dari 1000 buku dibanding Cetak Buku On Demand.
  • Kedua Cetak Buku On Demand lebih hemat biaya jika kuantitas 1 hingga 500 buku dibanding cetak offset

Jadi Apa yang akan dipilih?

Semua itu tergantung kebutuhan anda dalam mencetak buku, kalau baru mulai memasarkan buku alangkah baik mengunakan basis cetak on demand. Kalau bukunya sudah best seller, sangat disarankan untuk mencetak dalam basis cetak offset.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Bagaimana Menjadi Penulis Buku

person using typewriter
Photo by Min An on Pexels.com

Apa itu Penulis?

Penulis Buku adalah orang yang telah menulis sebuah karya, baik sebuah cerita, esai, karya sastra, atau karya akademis. Di Indonesia lebih dikenal istilah Pengarang Buku.

Ada banyak alasan, kenapa orang orang menulis, entah itu karena pekerjaan mereka, ekspresi kreatif, atau bisa pula kejenuhan mereka.

Untuk menjadi penulis tidak perlu syarat mutlak, cukup kreatif dan rajin saja sih.

Tidak ada hal yang begitu rekat untuk menjadi penulis, seseorang bisa saja tiba-tiba menjadi seorang penulis. Padahal diwaktu sebelumnya hanyalah seorang pekerja kantor biasa.

Tapi yang ingin berniat menjadi penulis, mulailah dari sekarang juga. Jangan ditunda-tunda.

Bagaimana Cara Menjadi Penulis Buku

1. Pelajari diri anda dahulu dan mulailah belajar.

Yup, tak kenal maka tak sayang. Mengenali potensi diri adalah hal terpenting, sebelum mempertimbangkan profesi apapun. Bagaimana menjadi penulis buku? Membaca sebuah buku pun belum pernah.

Apalagi banyak diantara kita, yang baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku, langsung tergesa-gesa untuk menulis. Tenang, semua itu membutuhkan waktu dan proses.

Mulailah dari mempelajari dari buku-buku yang telah dibaca. Baik cara penulisan, gaya bahasa, hingga penggunaan tanda baca.

Belajar gaya penulisan yang agak sedikit sulit, kita terkadang mampu menilai setelah membaca novel, langsung berkata; “ah cerita begini doang”. Cobalah tiru, alih-alih baru sampai tiga paragraf saja ceritanya sudah tamat.

Lihat Juga : Cara Mencetak Buku.
2. Siapkan tempat dan media untuk menulis.

Bicara soal tempat, sebuah tempat dapat memberikan perasaan tersendiri dalam menulis. Tempat yang sunyi adalah pilihan tepat, dalam meluangkan waktu untuk menulis. Kalau ditempat keramaian, sebenarnya bukan pilihan bagus, Namun ketika ide datang, segerakanlah untuk menulis.

Ide untuk menulis itu bisa datang secara tiba-tiba, mulai biasakanlah menulis pelbagai media. Tidak hanya pena saja, kalau perlu semuanya. Baik itu laptop dan telepon genggam, jadikanlah media menulis juga.

Seperti Made Wianta yang terkenal lewat karya Puisi Rupa. Menulis yang tidak terbentur oleh media apapun, Dia menulis di atas kertas tisu, tiket, nota belanja, bahkan sobekan majalah. Puisi Rupa itu sendiri adalah salah satu cara merespon suatu situasi atau kondisi secara cepat, spotan, dan membebaskan.

Jangan terbentur pada pena yang bagus, telepon genggam yang canggih, apalagi laptop yang canggih (saking canggihnya dipakai buat main game saja).

3. Ciptakanlah pola pikir yang baik, jangan ragu.

Banyak yang penulis awalnya terkesima dengan tulisan yang bagus, serta kata-kata yang indah. Akhirnya mencoba membuat kata-kata yang indah dengan berpikir keras, dan hasilnya tentu saja buntu. Berkutat pada kata-kata indah sering kali meluluhkan kenginan menulis, bahkan satu paragraf pun tidak selesai-selesai. Lah wong niatnya pengen dipuji, bukan berkarya.

Nah sebelum menulis baiknya kita memiliki pola pikir yang positif, tidak perlu mengejar karya yang bagus. Jangan takut apalagi ragu, kalau tulisan tidak terasa bagus.

Memang banyak yang akhirnya berhenti menulis karena ragu dan malu, apalagi telah dapat cemohan orang-orang. Tapi tetap yakinlah, belajar perlahan-lahan, dan perbaiki gaya penulisan.

Lihat Juga : Pengertian dan Jenis Cover Buku.
4. Atasi gangguan dalam menulis, berusaha tetap fokus.

Gangguan dalam menulis itu bisa macam-macam, mulai dari diri sendiri kurang pede atau terlalu yakin sekali tulisannya bagus. Keduanya sama saja petaka besar. Menulis itu kaitannya dengan berkarya, bukan ingin dikenal. Yang paling pertama kali lawanlah diri sendiri dahulu, karena gangguan pertama kali adalah diri sendiri.

Setelah diri sendiri dapat diatasi, tentunya hal lain harus diatasi juga, seperti telepon genggam. Kalau menulis menggunakan telepon genggam baiknya aktifkan dahulu mode pesawat, agar tidak terganggu centang-centung pesan masuk.

Terakhir pastikan semua pekerjaan sudah selesai sebelum menulis, jangan sampai ditengah menulis, baru teringat kompor belum dimatikan.

5. Kalau sudah terbiasa menulis, mulailah tetapkan waktu.

Setelah mampu mengatasi gangguan menulis, mulailah tetapkan waktu untuk menulis. Entah itu setiap hari sebelum tidur, maupun menetapkan waktu sembarang ketika ada ide. Kalau bisa keduanya lebih baik.

Disiplin waktu itu baik sekali, pastinya tulisan sebuah buku akan cepat selesai. Eh tapi, jangan over pede dahulu, koreksi juga tulisan dari awal kembali. Ya, dengan mengkoreksi, kita akan tahu kesalahan kecil atau besar dalam setiap penulisan.

Tapi yang menarik itu tetap menulis disembarang waktu, baik berupa esai, puisi, maupun cerpen. Menulis sembarang waktu, seperti mengumpulkan butir-butir emas kreativitas. Jadi kedua point ini tetap dipakai, baik itu disiplin waktu menulis dan sembarangan waktu menulis, malah nanti bisa jadi dua karya buku loh.

Terakhir

Tunggu apalagi, masih saja ragu menulis sebuah buku. Karya terkenal itu tidak tahu kapan muncul, boleh jadi itu dari karya anda sendiri.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Tips Mencetak Buku Mandiri

Mencetak Buku Itu Sedikit Sulit

books placed between branches of blossoming tree
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Mencetak buku sendiri itu bisa dibilang gampang-gampang susah, menjadi sulit kalau kita tidak ingin memahami, bagaimana cara mencetak buku yang sesuai keinginan kita.

Bisa dibilang mencetak buku sedikit berbeda dengan proses percetakan pada umumnya, lewat jasa fotocopy pun tidak sama. Karena harus tahu mengenai margin (batas tepi) buku yang harus benar-benar diperhatikan, agar benar-benar nyaman dibaca.

Perkara nyaman dibacalah, yang menjadikan proses pembuatan buku, agak sedikit rumit. Kalau asal cetak saja, alih-alih bukannya bagus, malah menjadi berantakan tidak karuan.

Mulai dari susunan halaman, penempatan penomoran halaman, ukuran font, hingga ke desain cover dan isi.

Tata letak isi (paragraf dan ukuran font) maupun cover harus diperhatikan sekali, jangan sampai terlalu dekat dengan bagian dalam lem dan luar buku. Bisa-bisa nanti terkena potong, atau terlalu mepet, jadi pas buku dibuka terlalu sudut ke dalam.

Karena sebab itulah ada beberapa point sederhana yang harus kami bagikan.

Hal yang harus diketahui sebelum mencetak buku :

1. Ukuran Buku Yang Diinginkan

Coba tengok koleksi buku anda, dan pilihlah yang paling nyaman dibaca. Yup, ambil penggaris kemudian ukurlah, kira-kira masuk ke ukuran buku ya mana? Mengenai ukuran buku bisa dilihat disini.

Dari ukuran buku, kita juga bisa ukur margin (batas tepi dengan paragraf) buku tersebut.

2. Cari Desain Cover dan Tata Letak Isi Yang Sesuai Keinginan.

Ada baiknya kita melihat koleksi buku sendiri, boleh juga sesekali ke toko buku atau perpustakaan hanya untuk melihat-lihat desain dan tata letak isi yang diinginkan. Setelah itu, cari tutorial atau template desain yang diinginkan. Bisa juga melalui www.canva.com untuk desain cover.

3. Memilih Jenis Kertas Yang Cocok Untuk Buku.

Untuk sebuah buku bacaan, baiknya menggunakan book paper atau HVS. Yang paling baik untuk membaca berlama-lama, yaitu book paper. Kalau HVS agak cepat membuat mata lelah.

4. Mempersiapkan Biaya Cetak.

Nah ini, masalah terbesar adalah biaya (duit-duit). Namun seiring perkembangan zaman mencetak buku satuan sudah mudah, dan tidak perlu mengeluarkan biaya relatif tinggi. 1 buku saja bisa dicetak kok sekarang, tidak perlu banyak-banyak.

5. Pilih Tempat Cetak Buku

Tempat cetak buku sekarang ini sudah relatif banyak bisa online. Tapi pastikan tempat cetak buku itu bisa menjilid dengan Lem Panas, karena jilid dengan lem panas menjadi standar bagi buku Penerbitan.

Mungkin itu saja yang dapat kami bagi, sebagai gambaran ringkas sebelum mencetak buku karya anda sendiri.

Selamat Menulis..

Lihat juga : Template Layout Buku.

Kenapa Harus Membaca Buku

white ceramic teacup with saucer near two books above gray floral textile
Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Harus membaca buku, iya memang wajib kok.

Membaca buku adalah aktivitas yang memiliki banyak manfaat, bagi pribadi maupun orang lain. Tradisi membaca buku telah berjalan sudah lama sekali, semenjak manusia mulai belajar tulis menulis.

Seperti kita tahu, buku salah satu sumber pengetahuan kita. Bisa menambah pengetahuan serta wawasan. Belajar dari pengalaman saja tidak cukup, maka baiknya kita harus membaca buku lebih rutin lagi.

Karena membaca adalah suatu cara mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Tak hanya sebuah tulisan saja, ini merupakan hasil pemikiran seorang penulis.

Aktivitas membaca itu mempunyai tujuan yang baik, entah itu karena dikejar oleh ujian sekolah. Aktivitas membaca sendiri adalah salah satu cara menghibur diri sendiri, contohnya dengan membaca novel.

Ada banyak buku-buku yang bisa mengubah pemikiran kita, seperti buku biografi ataupun buku motivasi.

Lantas, untuk apa sih kita membaca?

  1. Mendapatkan dan terhubung dengan pengetahuan baru, kita bisa memahami berbagai pemikiran penulis (orang).
  2. Dapat memberikan kita kesempatan untuk bereksperimen atau menguji, lebih tepatnya bisa memikirkan dan mencoba, apa yang dimaksud oleh penulis.
  3. Terjadi dialog pemikiran, karena dalam suatu bacaan itu, banyak sekali lemparan pertanyaan.
  4. Menikmati keindahan kata-kata yang diberikan oleh penulis. Pada akhirnya kita bisa mengerti keindahan kata-kata itu sendiri.
  5. Dengan membaca, pikiran kita menjadi terstruktur, tidak seperti tumpahan air yang melimpah kesana kemari.
Lihat juga : Manfaat Membaca Buku.

Apalagi kebiasaan membaca sudah biasa kita tanamkan dari sejak kecil. Tentu hal ini akan menambah keragaman kosa kata kita. Fungsi kreativitas akan terus bertambah seiring dengan perkembangan usia.

Menanamkan keyakinan bahwa membaca buku adalah hal positif ini yang paling penting sekali.

Sudah banyak sekali contoh kenapa kita harus membaca buku. Minimal 1 buku saja 1 bulan. Nanti ditambah seiring dengan perkembangan waktu.

Kalau kita sudah membaca hingga 3-4 buku, pastinya rasa ingin tahu akan terus bertambah. Dan tidak kerasa akan banyak buku yang telah dibaca.

Terakhir, jangan pernah berhenti membaca buku ya. Membaca buku itu banyak sekali manfaatnya. Sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang harus diutarakan lagi. 🙏