Perjalanan Buku Ikhlas Paling Serius

Ikhlas paling serius sebelum
Sebelum ditangan Penerbit

Ikhlas Paling Serius


“Buku harus dijadikan kapak untuk mencairkan laut beku dalam diri kita.” Franz Kafka

Perjalanan buku ini seperti narasi saja, awalnya cuma dicetak secara mandiri oleh Penulisnya dikami, hingga akhirnya diambil oleh Penerbit Besar, yaitu Penerbit Media Kita. Tepatnya akan terbit pada tanggal 26 Maret 2021 nanti.

Menjadi Menarik : Dari Mempublikasikan Secara Mandiri Hingga ke Penerbit Besar.


Tak ayal, ini jadi pengalaman menarik buat kami. Memang tidak pernah menyangka, buku ini awalnya cuma dicetak 100 buku lanjut kedurasi pesanan yang jumlah berbeda.

Akhirnya bertemu juga dengan penerbit yang tepat.

setelah diterbitkan media kita
Setelah di Penerbit Media Kita

Meski pada akhirnya kami tidak bisa mencetaknya lagi. Lah wong sudah dipegang oleh Penerbit. Karena Penerbit Buku dan Percetakan Buku adalah 2 hal yang berbeda.

Jangan Ragu

Bagi para penulis janganlah pernah ragu, teruslah berkarya. Masih banyak jalan bagi karyanya dibaca oleh para pembaca buku. Bisa lewat jalur mandiri seperti ini atau bisa juga Self Publishing (Penerbit Indie). Terlebih dunia buku memiliki banyak sekali genre buku.

Lihat Juga : Macam-macam Genre Buku.

Tentu salah satu tips yang paling penting adalah terus berkarya dan terus mengembang diri, jangan pernah berhenti dititik nyaman. 🙂

Buku Cetak vs Ebook

Pandangan Mengenai Buku Cetak Dengan Ebook

Buku dan ebook sebenarnya bukan masalah baru. Ebook hadir beberapa tahun belakangan, dan masih bertahan hingga kini. Namun tetap saja menjadi dilema penggunaannya.

Sekarang ini sudah beberapa Penerbit di Indonesia mulai beradaptasi dengan ebook, semenjak adanya Aplikasi Google Play Books (maaf tidak tahu soal aplikasi iPhone, apalagi Kindle)

kindle technology amazon tablet
Photo by freestocks.org on Pexels.com

Sayangnya baik ebook dan buku cetak belum dipandang betul di Indonesia. Yah bisa dibilang, karena budaya malas baca. Untungnya perkembangan literasi visual cukup bagus, dengan maraknya penggunaan YouTube, yang memiliki konten edukasi didalamnya. Tapi ada beberapa yang menyesatkan juga.

Bicara budaya membaca sebenarnya kebutuhan krusial, tidak cukup hanya melek huruf saja. Melek secara pemikiran kritis sangat perlu.

Sebenarnya kehadiran ebook sangat membantu sekali keberadaan buku cetak. Kita bisa melihat beberapa halaman versi ebooknya sebelum memutuskan membeli bukunya. Kalau ditoko buku belum tentu bisa semudah ini, terkadang harus buka segel plastiknya dahulu, baru bisa melihat ke dalam isi bukunya.

Kalau di luar sana ,Penerbit sangat memanfaat sekali fitur ini. Customer sering kali melihat dahulu ebooknya di Google Play Books, baca beberapa halaman gratisnya. Lalu customer dapat memutuskan membeli buku fisiknya di market place.

Buku Cetak

Buku cetak memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki nuansa buku secara sempurna. Kita dapat merasakan memegang buku, membalikkan halaman buku satu persatu, hingga merasakan bentuk serat kertas melalui sentuhan jari.

Terlebih buku cetak, pilihan terbaik dalam membaca sebelum kita tidur, tidak membuat ketegangan mata dibandingkan membaca melalui telepon genggam. Alih-alih ingin membaca buku lewat telepon genggam, malah tambah sulit tidur.

Kalau bicara, dibawa kemana-mana, pastinya ebook lebih mudah. Cukup mengandalkan telepon genggam anda saja sudah cukup. Tidak repot membawa banyak buku, untuk menjalani keseharian.

Lihat Juga : Ukuran Standar Buku.

Ebook

Ebook memiliki desain yang berbeda dengan buku cetak, layout bukunya saja berbeda jauh dengan buku cetak. Di Aplikasi Google Playbook sendiri, mengenalkan tata letak model Flowing Text, jauh berbeda dengan tampilan buku umumnya.

Adaptasi tampilan ebook sangat membantu proses membaca ebook, tapi sayangnya tidak merasai sudah berapa halaman sudah membaca. Tidak dipungkiri tebalnya sebuah buku, menjadi tantangan sendiri dalam motivasi membaca buku lebih banyak lagi.

Lihat juga : Kelemahan Ebook.

Perbandingan Harga

Ebook sendiri, harusnya lebih murah dibandingkan buku cetak. Entah kenapa di Indonesia, harganya masih sama dibandingkan buku cetak. Hal ini menjadi penghalang besar, perkembangan ebook di Indonesia.

Para pembaca buku tentunya mengharapkan harga yang lebih murah dari buku cetak. Mungkin ada alasannya lain, terlebih buku bajakan di Indonesia sangat merajalela. Tentu akan mengkhawatirkan, bagi penerbit sendiri. Niatnya mencari tambahan untung (lebih tepatnya bertahan, karena banyak sekali penerbit sekarang yang gulung tikar) malah tidak mendapatkan apa-apa.

Tapi ada baiknya mempertimbangkan harga yang didapat karena memperoleh tambahan informasi serta pengetahuan dari buku. Pengetahuan adalah investasi terbesar bagi pribadi.

Kesimpulan

  • Buku cetak membuat merasakan lebih fisik buku, dapat memegangnya, membalikkan halamannya, serta merasakan serat kertasnya.
  • Buku cetak lebih bersahabat dan nyaman untuk mata, tidak membuat mata tegang dan kelelahan.
  • Buku cetak tidak memerlukan sama sekali listrik.
  • Ebook dapat dibawa kemana-mana beberapa judul buku dalam 1 perangkat saja.
  • Ebook bisa disimpan dengan baik dalam satu gadget, tidak memerlukan sama sekali rak buku, tidak ada resiko rusak.
  • Ebook dapat dibaca dalam tempat gelap, tidak membutuhkan penerangan, tapi resikonya tinggi juga, terhadap mata.
Lihat Juga : Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku.

Beberapa Macam Genre Buku

Prakata

opened book on white cloth near dandelion flowers
Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Memilih sebuah buku yang baik sebenarnya tidak ada patokannya. Tidak ada buku yang tidak baik, buku terlaris pun juga tidak melulu bisa dikatakan buku yang bagus. Bagi segelintir orang, buku memiliki manfaat, nilai, dan arti tersendiri.

Membicarakan buku, seperti membicarakan perjalanan panjang, tidak tahu kini telah ada berapa buku yag sudah tercipta dimuka bumi ini, dan berapa banyak buku yang sudah terbaca oleh orang-orang, belum lagi, berapa banyak buku yang telah punah ditelan oleh zaman.

Sebutlah novel tertua didunia itu The Tale of Genji, tidak jelas juga novel ini sudah berapa kali dibaca dan tercetak, dan berapa orang yang hidupnya dipengaruhi buku tersebut.

Bagi yang ingin mengeluti dunia baca, ada baiknya mengenal genre buku dahulu, tapi sebenarnya tidak tepat juga, langsung pergi saja ke toko buku minimal akan menemukan buku yang menarik dari toko buku tersebut.

Genre Buku itu ada banyak macamnya, dan terus berkembang. Tidaklah tepat mengatakan berapa jumlah genre buku. Kenapa? Karena buku adalah hasil pemikiran manusia, yang tentunya akan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Ada beberapa macam Genre Buku yang umum dibaca yaitu :

1. Aksi dan Petualangan

Seperti dalam dunia film saja, genre ini selalu membuat kegembiraan. Karena karakter utama dalam buku selalu menemukan sesuatu yang beresiko dan punya masalah terus 🙂 (kasihan sekali hidupnya). Akhirnya dapat menyelesaikan semua resiko dengan jalan berbahaya dan terselesaikan dengan cara yang tidak memungkinkan.

2. Klasik

Sebutlah buku karya Charles Dickens, bukunya terbit pertama kali berjudul The Pickwick Papers tahun 1836. Kalau admin sendiri baru sempat membaca Great Expectations dari Charles Dickens, buku ini selalu ada dibeberapa rak buku toko buku ternama. Seperti karya sepanjang masa saja.

Genre Klasik sebenarnya sangat menarik, kadang yang menjadi pertanyaan bagaimana orang dahulu kala dapat menulis dengan pemikiran yang sangat jauh dan bagus sekali .

3. Komik

Kok komik masuk ke dalam satu genre buku? Cerita dalam komik itu disajikan dalam bentuk gambar yang menarik, berurutan yang disajiikan secara naratif loh. Kita dapat membaca tulisan-tulisan lewat “balon-balon” kata pada setiap gambarnya.

4. Detektif dan Misteri

Dalam genre ini acapkali berkisar pada tindak kejahatan yang harus diselesaikan. Salah satu yang kita kenal karya Sir Arthur Conan Doyle melalu karyanya The Adventures of Sherlock Holmes.

Kepiawaian dalam memecahkan teka-teki, menjadi bagian yang menarik dalam membaca buku genre ini. Kita dibimbing kedalam hal yang tidak mungkin ditemukan akal sehat.

5. Fantasi

Genre ini umumnya berlatarkan pada dunia khayalan fiksi, yang mencakup elemen-elemen penting dari sihir, mitologi, atau supernatural. Genre ini selalu berkaitan erat dengan genre adventure dan genre lainnya.

6. Fiksi Sejarah

Genre ini mengambil setting waktu tertentu dari masa lalu yang tentunya tidak sesuai dengan kenyataan realnya. Bahkan sangat bertentangan dengan sejarahnya, dan ada juga yang terlihat sangat mirip juga.

Sebutlah salah satu karya Gabriel Garcia Marquez dalam One Hudred Years of Solitude, ini termasuk fiksi sejarah yang cukup menarik untuk dibaca.

7. Horor

Ih serem, genre ini sangat terkesan dengan sesuatu yang menyeramkan, membuat berdegub kencang. Genre ini tidak hanya membuat kita tidak nyaman tapi menggiring kita terus dalam penasaran yang jauh. Kalau mengenai Horor yang tidak jauh masternya Stephen King.

8. Sastra Fiksi

Genre ini sangat luas sekali, bisa mencakup banyak genre lainnya, Sastra Fiksi mengacu kepada gaya penulisan artistik pengarang, yang bisa membangkitkan pemikiran mendalam melalui cerita dalam buku tersebut.

9. Romance

Ingin rasanya melewati bagian genre ini, Genre yang berkisar kisah percintaan romantis ini, mempunyai banyak penggemar dari berbagai kalangan usia. Genre ini membuat hati kita bisa hangat, berbunga-bunga, bahkan bisa larut kedalam kesedihan.

10. Fiksi Ilmiah (Sci-Fi)

Kadang sering dianggap sama dengan genre fantasi, yang membedakan dari cerita fiksi ilmiah adalah sangat bersandar pada tema teknologi dan sains masa depan.

11. Cerita Pendek

Cerita pendek adalah prosa singkat yang secara jelas lebih pendek dari novel. Genre ini menceritakan narasi dan rangkaian adegan yang singkat. Biasanya genre ini dibukukan dalam kumpulan cerpen.

12. Thriller

Genre ini bersifat menegangkan, menampilkan upaya tokoh utama untuk menghentikan dan mengalahkan penjahat, yang berupaya untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri, daripada mengungkap kejahatan.

13. Fiksi Perempuan (Women’s Fiction)

Fiksi Perempuan ditulis khusus untuk pembaca perempuan, yang seringkali merefleksikan pengalaman perempuan dalam masyarakat dan pribadinya.

14. Biografi dan Otobiografi

Dari namanya kita sudah tahu mengenai genre ini, yang mengungkap sejarah kehidupan seseorang, entah itu baik atau buruknya. Yang pasti bisa mengungkap sejarah tertentu.

15. Esai

Ditulis dengan sudut pandang penulisnya yang merefleksikan topik tertentu entah kritik atau cara pandang terhadap tema tertentu. Tema ini sangat menarik untuk dibaca dan menambah wawasan baru juga.

16. Sejarah

Genre buku ini mencatat letak dan moment tertentu dalam sejarah, yang tentunya bertujuan untuk menginformasikan serta mendidik pembacanya. Dengan buku sejarah kita dapat melihat bagian waktu dunia tertentu.

17. Memoir

Berbeda dengan otobiofrafi, memoar lebih fleksibel, tidak menampilkan catatan kronologis. Lebih fokus kepada momen yang dapat memberikan pesan dan pelajaran tertentu pada pembaca. Salah satu buku yang bisa dibaca karya Michelle Obama yaitu Becoming.

18. Puisi

Banyak sekali puisi yang sudah dibukukan, genre ini salah satu genre yang termasuk dinikmati, karena puisi termasuk bentuk seni tulis yang dapat membangkitkan atau memberikan kedalaman emosi. Ada banyak pesan yang tersembunyi dalam puisi, yang sulit ditafsirkan.

19. Self-Help

Genre ini berfokus kepada kesehatan emosional, atau spiritual. Buku-buku genre ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan.

Lihat Juga : Masalah Dalam Mencetak Buku.

Apa Sih? Jilid Lem Panas itu

jilid buku lem panas

Jilid Buku Lem Panas

Penjilidan adalah proses menyatukan lembaran kertas-kertas secara berurutan menjadi sebuah buku. Dalam penjilidan sendiri membutuhkan adanya lem, sebagai media perekat lembaran kertas tersebut dengan cover buku.

Dalam proses membuat buku, tidak dapat dipungkiri membutuhkan adanya lem. Ditempat fotocopy banyak memakai lem untuk keperluan jilid, entah itu merek Aibon, Reskol maupun Fox, ya, lem-lem tersebut menjadi standar dalam mengelem sebuah buku.

Bagaimana dengan lem panas sendiri? Lem panas salah satu jenis perfect binding, selain jahit benang.

Karena kebutuhan buku yang relatif banyak dan memerlukan waktu cepat, maka lem panas ini hadir untuk menunjang dalam cetak buku.

Lem panas dapat kering dengan sempurna dalam waktu 2 jam, dibandingkan jenis lem Aibon, Reskol, maupun Fox (lem ini membutuhkan seharian untuk kering sempurna)

Sayangnya lem panas sendiri, membutuhkan adanya mesin khusus untuk menjilid. Tidak dapat hanya mengandalkan keterampilan tangan saja.

Keuntungan Jilid Lem Panas Pada Buku.

  • Menarik secara bentuk buku.
  • Kekuatan jilidnya sangat kuat
  • Daya tahannya sangat lama
  • Pada punggung buku bisa ditulis nama judul, pengarang, dan penerbit.

Poin diatas dapat dijabarkan nilai lebih lem panas, kenapa menarik? Punggung buku menjadi siku dengan sempurna, dan keras pada bagian terlemnya.

Kalau kita lihat buku-buku pelajaran atau novel yang biasa kita baca. Semua itu memakai jilid lem panas loh. Penting sekali buat buku yang dijual menggunakan lem panas,otomatis meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap buku tersebut.

Lihat juga : Ukuran Standar Buku.

Masalah Dalam Mencetak Buku

Persoalan Dalam Mencetak Buku

Dicetak atau diprint, apalah itu istilahnya, bukanlah perkara mudah untuk menjelaskannnya. Dalam mencetak tidak melulu langsung cetak begitu saja. Kalau langsung mencetak tanpa mengkoreksi filenya terlebih dahulu, alih-alih ingin cepat selesai malah buku menjadi berantakan tidak karuan.

Yup, mencetak buku bukanlah persoalan beruntung. Kalau hasilnya bagus bukan berarti karena Dewi Fortuna sedang bertengger didekat anda loh. Apalagi setiap file naskah tidaklah dalam kondisi yang sama. Ada berbagai persoalan dalam proses pembuatan sebuah buku yaitu :

green and black industrial machine
Photo by Wendelin Jacober on Pexels.com

1. Font Berubah (missing font)

Missing font adalah masalah yang paling umum, apalagi yang menggunakan purna rupa font dalam penulisan sebuah buku. Kalau lupa di embedded pada file PDF-nya, maka yang terjadi tidak semua jenis Font dapat tercetak.

Hal yang perlu digarisbawahi meski dalam file PDF-nya semua terlihat sudah pas tidak ada font yang hilang, pas dicetak pas dicetak bisa hilang loh, karena fontnya tidak tersedia dikomputer tukang cetaknya.

Solusinya pastikan font sudah ter-embed pada file anda.

2. Warna Tidak Pas

Nah bicara warna agak kurang PD nih, terlebih terbiasa cuma cetak hitam putih saja. Sebenarnya masalah warna sering terjadi, karena perbedaan tekstur kertas, yang dapat menyebabkan perbedaan daya serap tintanya.

Sekali-kali tengoklah tukang cat rumah bagaimana mereka bekerja, pada sisi-sisi tertentu, warna putih cat tidak maksimal, dibanding dengan sudut dinding yang lain. Pada bagian tembok kelembaban tinggi, pasti warna catnya kurang pekat.

Seperti inilah yang terjadi pada isi buku, khususnya antara book paper dan HVS. Warnanya sama tapi karena daya serap tinta dan warna dasar kertas berbeda, hasilnya akan berbeda. Jangan harap kertas book paper hasilnya berwarna pekat, kecuali pakai print laser, pasti hasilnya sama saja, kalau printer laser kan tintanya menempel tuh, bukan menyerap.

3. Kualitas Kertas Menurun Tiap Tahunnya.

Sebagai orang yang sering memakan asam garam pulp kertas. Tentu tahu sedikit mengenai kualitas kertas makin tahun makin turun. Mulai dari serat kertasnya hingga ketebalannya.

Ketebalan yang paling terasa menurun. Pernah berberapa kali mencetak ulang buku dengan judul yang sama, sangat merasakan ketebalan kertas menurut sedikit.

Lah wong kemarin mencetak ulang buku yang sama, tadinya tebal buku 2 cm sekarang jadi 1.9 cm buku. Sedikit sih, tapi kalau sampai 2 mm itu namanya kebangetan.

Belum lagi, bicara kekakuan kertas art carton. Kalau dahulu kertasnya sudah tebal dan kaku pula, sekarang jadinya kurang tebal dan agak lemas.

4. Waktu Yang Kepepet.

Bikin buku tidaklah sebentar, bisa makan waktu 3-4 hari (itu kalau kita yang buat). Tidak bisa cepat? Ya susah juga jawabnya.

Seringnya, sudah waktunya besok hari buku itu harus tercetak. Barulah kita mencari percetakan buku.

Percetakan Buku itu sebenarnya berbeda dengan Print Shop atau Tempat Fotocopy, meskipun beberapa tempat tersebut mampu mencetak buku dalam satu waktu, namun segi biaya cukup fantastis.

Nah mengenai proses mencetak beberapa judul buku dalam satu waktu itu agaklah rumit. Pertama buku di layout pra cetak dahulu, kedua proses cetak, ketiga penjilidan, keempat packaging.

Kalau cuma 1 judul buku yang dikerjakan oleh Percetakan Buku perhari ya bisa cepat, tapi kalau mereka ada 50 judul buku saja perhari, pastilah susah mengatur proses cetak semua buku itu

Akhirnya

Yang paling penting sih kita harus memahami bagaimana cara mencetak buku, agar tidak terjadi kesalahan fatal. Terlebih buku terdiri dari susunan beberapa halaman, salah satu halaman saja, bisa merevisi seluruh halaman buku loh.

Semua permasalahan diatas adalah hal yang paling umum dihadapi dalam mencetak buku. Sebenarnya masih banyak lagi masalah dalam mencetak buku yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kurang lebihnya kami mohon maaf.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku

a romantic setting in the bathroom
Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Menulis artikel ini agak berat memang, terlebih kebiasaan membaca buku saja belum mumpuni. Masih banyak buku yang belum sempat dibaca, dan lagi, ada beberapa buku juga belum selesai dibaca.

Bicara kebiasaan, sebenarnya berkaitan dengan rutinitas. Bangun pagi lalu gosok gigi, makan siang tepat waktu, dan semua yang dilakukan berulang-ulang secara tepat.

Membaca buku sebagai bagian rutinitas sangat baik dan sangat aman, karena tidak akan menimbulkan kelebihan kolesterol pada tubuh.

Sayangnya kebiasaan membaca buku biasanya terhenti ketika kebutuhan terhadap pendidikan sudah usai. Mayoritas ketika sudah masuk dalam dunia pekerjaan, kebiasaan membaca buku akan pelan-pelan hilang. Padahal ada banyak buku yang bisa dibaca sebagai alternatif waktu luang.

Membaca buku itu jangan disamakan dengan menghapal, dan tidak selalu untuk menjadi pintar. Baiknya membaca buku itu, sering terjadi dialog dalam pikiran. Simplenya pikiran bisa berpikir jauh kemana-mana.

Sebenarnya ada beberapa cara untuk membangun kebiasaan membaca buku :

1. Sediakan Waktu Khusus Untuk Membaca

Inilah yang paling penting, banyak dari kita kurang menyediakan waktu khusus untuk membaca. Padahal, waktu yang disediakan tidaklah harus cukup lama :

  1. Pagi hari 30 menit
  2. Sebelum tidur 40-60 menit
  3. Hari libur 1-2 jam

Waktu diatas tidaklah harus akurat, itu tergantung kita mau menyediakan waktu itu sendiri. Tidak dipungkiri, kesibukan adalah beban utama dalam menyediakan waktu.

2. Tujuan Membaca

Apa sih tujuan membaca? Kalau cuma ingin terlihat pintar, yah cukup menenteng buku saja kemana-mana. Otomatis, orang-orang disekitar akan menilai bagus. Tujuan membaca buku bagi setiap orang berbeda-beda, tapi bagi yang ingin memiliki kebiasaan membaca buku, baiknya mempertimbangkan tujuan membaca.

Tujuannya sederhana, membaca buku ada dua pilihan pertama untuk menambah pengetahuan pribadi dan kedua hiburan diwaktu luang.

3. Jadikan Telepon Pintar Sebagai Media Baca

Kesibukan dan beratnya membawa buku sebenarnya bukan masalah penting sekarang ini. Lewat telepon pintar sekarang ini sudah bisa dilakukan, lewat Google Playbook salah satunya, sudah banyak sekali ebook disana.

Dan membangun kebiasaan tidak melulu harus lewat buku, bisa saja membaca Esai-esai dari Mojok.co sebagai alternatif media baca.

4. Kembangkan Daftar Yang Ingin Dibaca

Daftar bacaan sebenarnya tidak begitu penting sih, menjadi perlu untuk patokan arah yang ingin dibaca. Kalau tidak memiliki daftar buku yang ingin dibaca, bisa kesasar kemana-mana, dan akhirnya minat baca menurun.

Tapi biasanya setelah kita membaca lebih 20 buku, daftar bacaan buku akan tercipta otomatis. Jadi ingin tahu mengenai buku lainnya.

5. Jangan Jadikan Kebiasaan Membaca Sebagai Tantangan.

Saya pikir kebiasaan membaca buku bukanlah sebuah tantangan, kalau dijadikan tantangan bisa-bisa malah drop nantinya. Jadikan saja sebuah alasan agar hidup lebih baik saja sudah cukup.

Kebiasaan membaca buku dibentuk agar kita tidak terjebak kebosanan dan rutinitas harian yang begitu-gitu saja.

Lihat Juga : Beberapa Kelemahan Ebook. 

Beberapa Kelemahan Ebook

black tablet computer behind books
Photo by Perfecto Capucine on Pexels.com
“I love the smell of book ink in the morning.” Umberto Eco.

Kutipan diatas itu tidaklah bohong aroma buku memberikan rasa nyaman tersendiri. Saya sendiri sesekali mencium aroma buku disela lelah membaca buku. Lain dengan ebook tidak memiliki aroma seperti buku.

Ebook adalah sebuah buku dalam format digital (file) yang hanya bisa digunakan melalui perangkat elektronik seperti komputer dan telepon pintar. Ebook hadir semenjak adanya komputer, dan makin populer ketika telepon pintar (yang berbasis android dan ios). Ada juga buku dalam format audio, menarik sih ketika mendengarkannya, sayangnya masih dalam bahasa inggris, tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Baik ebook dan buku audio, perkembangannya tidak terlalu signifikan, belum bisa menggantikan buku fisik sebenarnya. Memang buku dalam bentuk susunan kertas belum bisa digantikan hingga kini.

Tidak salah juga, kalau harus membicarakan sisi kekurangan ebook. Berikut beberapa hal yang sudah saya rangkum :

Tidak Nyaman Dibaca

Bicara kenyamanan adalah hal pertama yang paling penting, sebelum menggeluti kegiatan apapun. Membaca lewat telepon genggam masih terasa kurang nyaman, karena susunan teksnya yang begitu rapat dan padat. Jarak antar kata terlalu dekat, dan spasinya sedikit.

Belum lagi karena ukuran layar yang kecil, ukuran font pun jadi ikutan kecil. Makin sulit saja deh membaca ebooknya. Kalau memiliki dana lebih cobalah pakai Tab.

Sulit Konsentrasi

Membaca lewat perangkat telepon genggam akan ada saja gangguan konsentrasi. Entah itu pesan WhatsApp, dan notifikasi aplikasi tertentu.

Kalau membaca lewat telepon genggam harus menonaktifkan notifikasi, agar konsentrasi tidak mudah buyar. Namun tetap saja keinginan melihat aplikasi ada.

Masalah Kesehatan Mata

Kita sudah tahu, berlama-lama dilayar telepon genggam atau komputer, dapat membuat mata cepat lelah. Belum lagi dampak buruk dari radiasi layar perangkat elektronik. Masih menunggu beberapa kurun waktu mencapai teknologi layar sempurna dan aman untuk mata.

Sulit Dibaca Ketika Terkena Sinar Matahari.

Nah ini, pantulan cahaya matahari pada layar, menyebabkan terbatasnya tempat baca. Selain dikamar, membaca buku acapkali dilakukan diberanda rumah.

Kalau pancaran cahaya terlalu tinggi, pantulan cahaya cukup menyilaukan mata ini.

Mudah Dibajak

Kenapa mudah dibajak, ketika buku dalam bentuk file akan mudah berpindah-pindah tangan, terlebih ukuran filenya kecil. Seperti kita tahu hal ini akan merugikan penerbit serta penulis. Dan lagi penyebarannya sangat banyak didunia maya, dibandingkan buku fisik. Kita sering beranggapan dapat diunduh dengan bebas berarti legal, itu salah besar.

Memerlukan Perangkat

Meski telepon genggam adalah alat yang sudah familiar sekarang ini, tetap saja belum terjangkau diberbagai kalangan.

Kalau buku fisik, meski kita tidak mampu membelinya. Kita masih bisa meminjamnya diberbagai perpustakaan terdekat.

Rawan Dari Virus

Alih-alih mencari ebook gratisan, malah beresiko perangkat kita terkena virus. Ada banyak situs yang menyediakan ebook gratis, tapi sisi keamanannya sangat rendah. Hal ini menyebabkan perangkat anda rentan terkena virus. Belum lagi bila kita mengambil dari komputer yang sudah terkena virus, komputer kita bisa terkena virus juga.

Untuk mengunduh ebook dengan legal dan aman sebenarnya kita bisa. Salah satunya di Project Gutenberg, disana ada 60.000 ebook gratis dan tentunya legal.

Lihat juga : Toko Buku Indie.

Membangun Kebiasaan Menulis Lebih Banyak

opened notebook with silver pen near magnolia
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com
“What matters in life is not what happens to you but what you remember and how you remember it.” Gabriel García Márquez

Membuat tulisannya yang panjang tidak lahir tiba-tiba begitu saja. Menulis itu membutuhkan kerja keras. Tidak hanya itu saja, menulis adalah upaya sadar untuk menuangkan ide-ide lewat susunan kata yang terjalin satu sama lainnya. Terlepas dari apapun, menulis  menjadi cara berkomunikasi kita sendiri lewat pikiran. Baru ketika diterbitkan, baik menjadi sebuah buku, artikel website, blog, dan tulisan pada media sosial, tulisan itu baru dibaca.

Tetapi kebiasaan menulis itu butuh dorongan yang banyak, tidak cukup hanya sabar saja. Bagian yang tersulit adalah memotivasi untuk menulis lebih banyak lagi. Jangan berkutat pada layar dan tombol keyboard saja, mulai lah menciptakan kebiasaan menulis dengan baik.

Membangun Kebiasaan Menulis

Saya sendiri sadar, butuh waktu yang cukup lama untuk membangun kebiasaan menulis. Dulu sih, terbiasa menulis dibagian belakang buku tulis. Baru kini membiasakan menulis pada laptop dan hp, jadi lebih simple lagi.

Teratur dan rutin menulis itu memang seperti olah raga saja, tadinya cuma biasa mengayuh sepeda berjarak 5 km, kemudian menjadi 10 km, lalu 20 km. Percayalah, semua itu butuh waktu.

Cara yang terbaik adalah menjadikan menulis menjadi rutinitas, berikut ada sedikit tips :

1. Menulis Setiap Hari

Ya harus menulis setiap hari, kalau tidak bagaimana membangun kebiasaan menulis, sedang belum terbiasa menulis sama sekali. Lah wong, kita saja bisa membalas pesan Whatsapp setiap harinya, cobalah hitung sudah berapa kata yang sudah anda tulis dipesan itu.

Yang paling simple bisa mulai dari 300 kata saja setiap harinya, tidak banyak kok, lalu coba sesekali menjadi 750 kata . Barulah kemudian 750 kata perharinya.

Nantinya anda akan sadar, perlahan-lahan menulis itu menjadi mudah kok. Entah itu tulisanya bagus atau tidak, bukan anda yang menilai. Biasanya kita akan malas menulis pada hari kedua, nah itulah tantang terberatnya. Jangan berhenti, kalau pun berhenti sementara, bacalah buku atau esai-esai ringan, itu untuk tambahan nutrisi pikiran anda.

2. Tetapkan Tujuan Menulis

Tujuan selalu menjadi hal penting, sebelum anda menulis, tujuan untuk menulis apa sih? Mau menulis esai atau menulis sebuah novel. Menetapkan arah tulisan itu, tidak perlu memaksa untuk jadi karya yang bagus. Paling penting jadikan rutinitas dahulu.

Sebagai contoh kalau anda ingin menulis sebuah novel, biasakan menulis cerita pendek (cerpen) setiap harinya. Kalaupun tidak ada ide, tulislah apa yang sedang anda rasakan saja, itu sudah sangat bagus kok

Selingi dengan berbagai macam ide penulisan, jadi tidak melulu tulisan itu-itu saja. Bisa itu sebuah curahan isi hati, kritik, esai, atau resume buku yang telah dibaca.

3. Luangkan Waktu Menulis

Mengenai waktu sudah pastinya yang paling penting, setelah berlatih kebiasaan menulis. Mulailah luangkan waktu yang cukup banyak untuk menulis. Kalau cuma diberikan waktu 10 menit perhari untuk menulis, sudah dapat dibayangkan berapa banyak tulisan yang dapat ditulis.

Berilah waktu yang cukup panjang untuk anda menulis, jangan berikan waktu sebentar-bentar saja. Mau menulis sebuah karya kok, waktu yang diberikan cuma sedikit, kecuali anda ingin menulis puisi, itu persoalan lain.

Minimal berikan waktu untuk menulis 30 menit, kalau bisa ya sejam. Nanti akan berjam-jam waktu anda menulis, tidak terasa lelah, malahan makin haus lagi untuk menulisnya lebih banyak lagi.

4. Jangan Edit Langsung

Kebanyakan dari kita, ingin tulisan terlihat bagus. Inilah letak permasalahannya, biasakan menulisa saja, lupakan keindahan kata-katanya, kalau tidak terjalin menjadi kalimat yang baik, itu persoalan nanti.

Baru menulis satu paragraf saja, sudah buru-buru dicek dan diedit. Nanti ide anda tidak mengalir dengan mudah. Biarkan ide anda  mengalir dahulu menjadi kalimat, barulah ketika sudah selesai. Bacalah ulang, dan perhatikan penggunaan kata yang salah, serta tanda baca yang kiranya belum sesuai.

Pemahaman tanda baca saya pikir penting sekali loh. Salah penempatan tanda baca, bisa-bisa nanti bisa salah tafsir nanti tulisannya.

5. Tempat Menulis

Upayakan mempunyai tempat menulis sendiri dan pada media yang tepat. Tidak dipungkiri menulis di cafe kurang melahirkan tulisan yang panjang dan menarik.

Kalau ingin coba, didalam kamar atau ruangan khusus, yang bisa menghindari kita dari kebisingan serta gangguan. Pastinya proses menulis akan terasa berbeda.

Dan untuk media sendiri lebih baik menggunakan komputer (baik PC atau Laptop), dibandingkan dengan handphone yang mudah membuat jempol cepat lelah. Tapi itu juga tergantung kemampuan pribadi juga sih.

6. Pahamilah Gaya Penulisan Sendiri

Memahami tulisan sendiri tidaklah mudah, gaya penulisan sendiri, tergantung apa yang mengilhami tulisan kita. Tapi sesekali bacalah semua tulisan anda sendiri, biar memahami perkembangan gaya penulisan sendiri.

Kita akan tahu, letak kesalahan gaya tulisan. Bisa jadi, terlalu berputar-putar, jadi maksud dari tulisan itu sendiri tidaklah jelas.

Dan bandingkanlah sesekali dengan tulisan karya orang lain, agar anda dapat memahami gaya penulisan lebih banyak lagi.

Mungkin cukup ini saja yang bisa dibagikan.  Mulailah giat menulis sebuah karya. 🙏

Lihat Juga : Bagaimana Menjadi Penulis Buku.

Toko Buku Independen

woman reading book
Photo by Pixabay on Pexels.com

I have always imagined that paradise will be a kind of library. Jorge Luis Borges

Menjual Buku

Berwirausaha diwaktu luang adalah hal menarik, terlebih usaha yang akan dibuka berkaitan dengan hobi. Barangkali yang memiliki hobi membaca buku, suatu saat nanti bisa membuka toko buku sendiri. Saya sendiri membuka usaha percetakan buku ini, pada dasarnya suka membaca dari dahulu. Inginnya sih membuka penerbitan juga namun apalah daya, baru kesasar ke dunia percetakan saja.

Baiklah, soal berwirausaha semua orang sudah tahu. Tujuannya untuk menambah pundi-pundi uang. Tetapi hal ini sangat berbeda ketika kita berbicara Toko Buku Independen, mayoritas yang membuka toko buku independen adalah bertujuan menyebarkan literasi.

Singkatnya menjual sebuah buku, sama saja kita menyebarkan pengetahuan dan budaya membaca itu sendiri. Yah kalau berbicara keuntungan finansial juga banyak sih, tapi bukan itu maksudnya.

Toko Buku Independen itu apa sih?

Sebenarnya toko buku Independen tidak terlalu banyak di Indonesia masih kurang menjamur. Sebutlah toko buku Post Santa yang berada di Ibukota Jakarta, tepatnya berada di Pasar Santa. Menurut saya toko buku ini sungguh adiluhung, semua buku yang dijual hasil kurasi pemiliknya. Jadi kita tidak lagi kesasar pada arus utama, bisa menengok referensi buku-buku yang wajib kita ketahui.

Toko Buku Independen adalah toko buku yang hanya menjual buku-buku hasil kurasi. Jangan harap ada bermacam-macam buku disana, masing-masing toko buku independen mempunyai cara kurasi tersendiri. Buku-buku yang dijual sangat layak dibaca dan bermutu loh.

Manfaat Toko Buku Independen bagi pembaca

Tidak adil memang, menilai sebuah toko buku. Tapi,,, Tapi,,, Tapi… Sadarkah minat baca belakang ini sudah menurun jauh, solusinya adalah satunya, ya ini, Toko Buku Independen.

Toko Buku Independen sangat bermanfaat sekali, apalagi yang kurang berminat membaca, bagi pembaca pemula, dan bagi yang tidak ingin terjebak dalam arus utama buku. Tidak melulu berkutat pada buku yang best seller.

Sebagai contoh, ada judul buku yang selalu dibaca dari masa ke masa, misal karya George Orwell – 1984, buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1949, dan terus dibaca orang-orang hingga kini. Bisa dibilang buku karya George Orwell 1984 adalah salah satu buku yang wajib dibaca seumur hidup kita.

Inilah manfaat toko buku independen; kita akan mendapatkan dengan mudah buku-buku yang layak dibaca. 

Toko Buku Indipenden Online

Toko buku indipenden sebenarnya sudah merambah penjualan online sejak dulu. Tidak dipungkiri menjual secara online adalah salah satu strategi mengikuti perkembangan zaman.

Ada banyak toko buku Independen yang menjual secara online, baik yang menggunakan media sosial dan marketplace. ini ada beberapa daftar nama toko yang bisa diketahui :

  • Post Santa
  • Berdikari
  • Dema Buku
  • Buku Akik

Kesemua toko buku tersebut sangat mencintai buku dan senang berbagi referensi buku untuk dibaca. Asyikan, tidak perlu repot memikirkan banyak hal, mereka telah menyediakan referensi bagi kita semua.

Lihat Juga : Kenapa Harus Membaca Buku.

Menjelajahi buku on demand

printed musical note page
Photo by Pixabay on Pexels.com

Prakata

Membuat sebuah buku dari dulu membutuhkan waktu yang cukup lama, ada proses cetak isi, kemudian cetak cover, laminasi cover, proses jilid, pemotongan buku, lalu berakhir di pengemasan plastik shrink.

Sejak awal, proses percetakan buku menggunakan sistem cetak offset dari masa ke masa. Baru belakangan ini cetak digital merambah ke dalam industri cetak Indonesia.

Cetak digital sendiri adalah adaptasi mesin printer konvensional (rumahan dan kantor) menjadi skala industri. Yang tadinya printer berukuran kecil, sekarang menjadi berukuran besar.

Kita cukup membayangkan, printer yang ada dirumah anda berukuran 20 kali lipat besarnya dan lebih berkali-kali lebih cepat.

Industri cetak digital mengenalkan platform “Print on demand”, yang berarti mencetak sesuai dengan permintaan. Mau sedikit atau jumlah banyak tidak masalah sama sekali.

Nah, kalau untuk buku yang dapat mencetak buku sesuai permintaan disebut “Book On Demand” atau “Buku On Demand”.

Bagaimana cara cetak buku on demand bekerja?

Pertama, cetak isi buku dahulu, lalu menghitung tebal buku untuk persiapan cetak cover. setelah cover selesai dicetak langsung dilaminasi. Kemudian proses penjilidan buku, pemotong buku sesuai ukuran, terakhir packing buku. Selesai deh.

Cara cetak on demand sangat sederhana, cukup dengan file yang sudah tersusun rapi, langsung cetak saja. Persis seperti print dirumah saja.

Buku on demand, apa saja yang perlu diketahui?

  • Tidak perlu cetak banyak, satu buku saja bisa dicetak
  • Kualitas cetaknya setara atau sama dengan kualitas cetak offset
  • Efesien dari segi waktu dan tenaga
  • Hemat biaya cetak
Lihat juga : Harga Cetak Buku Print On Demand.

Cetak buku on demand vs cetak buku offset.

Nah ini yang paling rumit, bicara kualitas sama. Lalu manakah yang lebih baik? Kedua sama-sama baik dan bagus sih.

  • Pertama Cetak Buku Offset itu sangat hemat biaya jika kuantitas lebih dari 1000 buku dibanding Cetak Buku On Demand.
  • Kedua Cetak Buku On Demand lebih hemat biaya jika kuantitas 1 hingga 500 buku dibanding cetak offset

Jadi Apa yang akan dipilih?

Semua itu tergantung kebutuhan anda dalam mencetak buku, kalau baru mulai memasarkan buku alangkah baik mengunakan basis cetak on demand. Kalau bukunya sudah best seller, sangat disarankan untuk mencetak dalam basis cetak offset.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.