Arsip Kategori: Artikel

Artikel Seputar Print

Masalah Dalam Mencetak Buku

Persoalan Dalam Mencetak Buku

Dicetak atau diprint, apalah itu istilahnya, bukanlah perkara mudah untuk menjelaskannnya. Dalam mencetak tidak melulu langsung cetak begitu saja. Kalau langsung mencetak tanpa mengkoreksi filenya terlebih dahulu, alih-alih ingin cepat selesai malah buku menjadi berantakan tidak karuan.

Yup, mencetak buku bukanlah persoalan beruntung. Kalau hasilnya bagus bukan berarti karena Dewi Fortuna sedang bertengger didekat anda loh. Apalagi setiap file naskah tidaklah dalam kondisi yang sama. Ada berbagai persoalan dalam proses pembuatan sebuah buku yaitu :

green and black industrial machine
Photo by Wendelin Jacober on Pexels.com

1. Font Berubah (missing font)

Missing font adalah masalah yang paling umum, apalagi yang menggunakan purna rupa font dalam penulisan sebuah buku. Kalau lupa di embedded pada file PDF-nya, maka yang terjadi tidak semua jenis Font dapat tercetak.

Hal yang perlu digarisbawahi meski dalam file PDF-nya semua terlihat sudah pas tidak ada font yang hilang, pas dicetak pas dicetak bisa hilang loh, karena fontnya tidak tersedia dikomputer tukang cetaknya.

Solusinya pastikan font sudah ter-embed pada file anda.

2. Warna Tidak Pas

Nah bicara warna agak kurang PD nih, terlebih terbiasa cuma cetak hitam putih saja. Sebenarnya masalah warna sering terjadi, karena perbedaan tekstur kertas, yang dapat menyebabkan perbedaan daya serap tintanya.

Sekali-kali tengoklah tukang cat rumah bagaimana mereka bekerja, pada sisi-sisi tertentu, warna putih cat tidak maksimal, dibanding dengan sudut dinding yang lain. Pada bagian tembok kelembaban tinggi, pasti warna catnya kurang pekat.

Seperti inilah yang terjadi pada isi buku, khususnya antara book paper dan HVS. Warnanya sama tapi karena daya serap tinta dan warna dasar kertas berbeda, hasilnya akan berbeda. Jangan harap kertas book paper hasilnya berwarna pekat, kecuali pakai print laser, pasti hasilnya sama saja, kalau printer laser kan tintanya menempel tuh, bukan menyerap.

3. Kualitas Kertas Menurun Tiap Tahunnya.

Sebagai orang yang sering memakan asam garam pulp kertas. Tentu tahu sedikit mengenai kualitas kertas makin tahun makin turun. Mulai dari serat kertasnya hingga ketebalannya.

Ketebalan yang paling terasa menurun. Pernah berberapa kali mencetak ulang buku dengan judul yang sama, sangat merasakan ketebalan kertas menurut sedikit.

Lah wong kemarin mencetak ulang buku yang sama, tadinya tebal buku 2 cm sekarang jadi 1.9 cm buku. Sedikit sih, tapi kalau sampai 2 mm itu namanya kebangetan.

Belum lagi, bicara kekakuan kertas art carton. Kalau dahulu kertasnya sudah tebal dan kaku pula, sekarang jadinya kurang tebal dan agak lemas.

4. Waktu Yang Kepepet.

Bikin buku tidaklah sebentar, bisa makan waktu 3-4 hari (itu kalau kita yang buat). Tidak bisa cepat? Ya susah juga jawabnya.

Seringnya, sudah waktunya besok hari buku itu harus tercetak. Barulah kita mencari percetakan buku.

Percetakan Buku itu sebenarnya berbeda dengan Print Shop atau Tempat Fotocopy, meskipun beberapa tempat tersebut mampu mencetak buku dalam satu waktu, namun segi biaya cukup fantastis.

Nah mengenai proses mencetak beberapa judul buku dalam satu waktu itu agaklah rumit. Pertama buku di layout pra cetak dahulu, kedua proses cetak, ketiga penjilidan, keempat packaging.

Kalau cuma 1 judul buku yang dikerjakan oleh Percetakan Buku perhari ya bisa cepat, tapi kalau mereka ada 50 judul buku saja perhari, pastilah susah mengatur proses cetak semua buku itu

Akhirnya

Yang paling penting sih kita harus memahami bagaimana cara mencetak buku, agar tidak terjadi kesalahan fatal. Terlebih buku terdiri dari susunan beberapa halaman, salah satu halaman saja, bisa merevisi seluruh halaman buku loh.

Semua permasalahan diatas adalah hal yang paling umum dihadapi dalam mencetak buku. Sebenarnya masih banyak lagi masalah dalam mencetak buku yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kurang lebihnya kami mohon maaf.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku

a romantic setting in the bathroom
Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Menulis artikel ini agak berat memang, terlebih kebiasaan membaca buku saja belum mumpuni. Masih banyak buku yang belum sempat dibaca, dan lagi, ada beberapa buku juga belum selesai dibaca.

Bicara kebiasaan, sebenarnya berkaitan dengan rutinitas. Bangun pagi lalu gosok gigi, makan siang tepat waktu, dan semua yang dilakukan berulang-ulang secara tepat.

Membaca buku sebagai bagian rutinitas sangat baik dan sangat aman, karena tidak akan menimbulkan kelebihan kolesterol pada tubuh.

Sayangnya kebiasaan membaca buku biasanya terhenti ketika kebutuhan terhadap pendidikan sudah usai. Mayoritas ketika sudah masuk dalam dunia pekerjaan, kebiasaan membaca buku akan pelan-pelan hilang. Padahal ada banyak buku yang bisa dibaca sebagai alternatif waktu luang.

Membaca buku itu jangan disamakan dengan menghapal, dan tidak selalu untuk menjadi pintar. Baiknya membaca buku itu, sering terjadi dialog dalam pikiran. Simplenya pikiran bisa berpikir jauh kemana-mana.

Sebenarnya ada beberapa cara untuk membangun kebiasaan membaca buku :

1. Sediakan Waktu Khusus Untuk Membaca

Inilah yang paling penting, banyak dari kita kurang menyediakan waktu khusus untuk membaca. Padahal, waktu yang disediakan tidaklah harus cukup lama :

  1. Pagi hari 30 menit
  2. Sebelum tidur 40-60 menit
  3. Hari libur 1-2 jam

Waktu diatas tidaklah harus akurat, itu tergantung kita mau menyediakan waktu itu sendiri. Tidak dipungkiri, kesibukan adalah beban utama dalam menyediakan waktu.

2. Tujuan Membaca

Apa sih tujuan membaca? Kalau cuma ingin terlihat pintar, yah cukup menenteng buku saja kemana-mana. Otomatis, orang-orang disekitar akan menilai bagus. Tujuan membaca buku bagi setiap orang berbeda-beda, tapi bagi yang ingin memiliki kebiasaan membaca buku, baiknya mempertimbangkan tujuan membaca.

Tujuannya sederhana, membaca buku ada dua pilihan pertama untuk menambah pengetahuan pribadi dan kedua hiburan diwaktu luang.

3. Jadikan Telepon Pintar Sebagai Media Baca

Kesibukan dan beratnya membawa buku sebenarnya bukan masalah penting sekarang ini. Lewat telepon pintar sekarang ini sudah bisa dilakukan, lewat Google Playbook salah satunya, sudah banyak sekali ebook disana.

Dan membangun kebiasaan tidak melulu harus lewat buku, bisa saja membaca Esai-esai dari Mojok.co sebagai alternatif media baca.

4. Kembangkan Daftar Yang Ingin Dibaca

Daftar bacaan sebenarnya tidak begitu penting sih, menjadi perlu untuk patokan arah yang ingin dibaca. Kalau tidak memiliki daftar buku yang ingin dibaca, bisa kesasar kemana-mana, dan akhirnya minat baca menurun.

Tapi biasanya setelah kita membaca lebih 20 buku, daftar bacaan buku akan tercipta otomatis. Jadi ingin tahu mengenai buku lainnya.

5. Jangan Jadikan Kebiasaan Membaca Sebagai Tantangan.

Saya pikir kebiasaan membaca buku bukanlah sebuah tantangan, kalau dijadikan tantangan bisa-bisa malah drop nantinya. Jadikan saja sebuah alasan agar hidup lebih baik saja sudah cukup.

Kebiasaan membaca buku dibentuk agar kita tidak terjebak kebosanan rutinitas harian yang begitu-gitu saja.

Lihat Juga : Beberapa Kelemahan Ebook. 

Beberapa Kelemahan Ebook

black tablet computer behind books
Photo by Perfecto Capucine on Pexels.com
“I love the smell of book ink in the morning.” Umberto Eco.

Kutipan diatas itu tidaklah bohong aroma buku memberikan rasa nyaman tersendiri. Saya sendiri sesekali mencium aroma buku disela lelah membaca buku. Lain dengan ebook tidak memiliki aroma seperti buku.

Ebook adalah sebuah buku dalam format digital (file) yang hanya bisa digunakan melalui perangkat elektronik seperti komputer dan telepon pintar. Ebook hadir semenjak adanya komputer, dan makin populer ketika telepon pintar (yang berbasis android dan ios). Ada juga buku dalam format audio, menarik sih ketika mendengarkannya, sayangnya masih dalam bahasa inggris, tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Baik ebook dan buku audio, perkembangannya tidak terlalu signifikan, belum bisa menggantikan buku fisik sebenarnya. Memang buku dalam bentuk susunan kertas belum bisa digantikan hingga kini.

Tidak salah juga, kalau harus membicarakan sisi kekurangan ebook. Berikut beberapa hal yang sudah saya rangkum :

Tidak Nyaman Dibaca

Bicara kenyamanan adalah hal pertama yang paling penting, sebelum menggeluti kegiatan apapun. Membaca lewat telepon genggam masih terasa kurang nyaman, karena susunan teksnya yang begitu rapat dan padat. Jarak antar kata terlalu dekat, dan spasinya sedikit.

Belum lagi karena ukuran layar yang kecil, ukuran font pun jadi ikutan kecil. Makin sulit saja deh membaca ebooknya. Kalau memiliki dana lebih cobalah pakai Tab.

Sulit Konsentrasi

Membaca lewat perangkat telepon genggam akan ada saja gangguan konsentrasi. Entah itu pesan WhatsApp, dan notifikasi aplikasi tertentu.

Kalau membaca lewat telepon genggam harus menonaktifkan notifikasi, agar konsentrasi tidak mudah buyar. Namun tetap saja keinginan melihat aplikasi ada.

Masalah Kesehatan Mata

Kita sudah tahu, berlama-lama dilayar telepon genggam atau komputer, dapat membuat mata cepat lelah. Belum lagi dampak buruk dari radiasi layar perangkat elektronik. Masih menunggu beberapa kurun waktu mencapai teknologi layar sempurna dan aman untuk mata.

Sulit Dibaca Ketika Terkena Sinar Matahari.

Nah ini, pantulan cahaya matahari pada layar, menyebabkan terbatasnya tempat baca. Selain dikamar, membaca buku acapkali dilakukan diberanda rumah.

Kalau pancaran cahaya terlalu tinggi, pantulan cahaya cukup menyilaukan mata ini.

Mudah Dibajak

Kenapa mudah dibajak, ketika buku dalam bentuk file akan mudah berpindah-pindah tangan, terlebih ukuran filenya kecil. Seperti kita tahu hal ini akan merugikan penerbit serta penulis. Dan lagi penyebarannya sangat banyak didunia maya, dibandingkan buku fisik. Kita sering beranggapan dapat diunduh dengan bebas berarti legal, itu salah besar.

Memerlukan Perangkat

Meski telepon genggam adalah alat yang sudah familiar sekarang ini, tetap saja belum terjangkau diberbagai kalangan.

Kalau buku fisik, meski kita tidak mampu membelinya. Kita masih bisa meminjamnya diberbagai perpustakaan terdekat.

Rawan Dari Virus

Alih-alih mencari ebook gratisan, malah beresiko perangkat kita terkena virus. Ada banyak situs yang menyediakan ebook gratis, tapi sisi keamanannya sangat rendah. Hal ini menyebabkan perangkat anda rentan terkena virus. Belum lagi bila kita mengambil dari komputer yang sudah terkena virus, komputer kita bisa terkena virus juga.

Untuk mengunduh ebook dengan legal dan aman sebenarnya kita bisa. Salah satunya di Project Gutenberg, disana ada 60.000 ebook gratis dan tentunya legal.

Lihat juga : Toko Buku Indie.

Membangun Kebiasaan Menulis Lebih Banyak

opened notebook with silver pen near magnolia
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com
“What matters in life is not what happens to you but what you remember and how you remember it.” Gabriel García Márquez

Membuat tulisannya yang panjang tidak lahir tiba-tiba begitu saja. Menulis itu membutuhkan kerja keras. Tidak hanya itu saja, menulis adalah upaya sadar untuk menuangkan ide-ide lewat susunan kata yang terjalin satu sama lainnya. Terlepas dari apapun, menulis  menjadi cara berkomunikasi kita sendiri lewat pikiran. Baru ketika diterbitkan, baik menjadi sebuah buku, artikel website, blog, dan tulisan pada media sosial, tulisan itu baru dibaca.

Tetapi kebiasaan menulis itu butuh dorongan yang banyak, tidak cukup hanya sabar saja. Bagian yang tersulit adalah memotivasi untuk menulis lebih banyak lagi. Jangan berkutat pada layar dan tombol keyboard saja, mulai lah menciptakan kebiasaan menulis dengan baik.

Membangun Kebiasaan Menulis

Saya sendiri sadar, butuh waktu yang cukup lama untuk membangun kebiasaan menulis. Dulu sih, terbiasa menulis dibagian belakang buku tulis. Baru kini membiasakan menulis pada laptop dan hp, jadi lebih simple lagi.

Teratur dan rutin menulis itu memang seperti olah raga saja, tadinya cuma biasa mengayuh sepeda berjarak 5 km, kemudian menjadi 10 km, lalu 20 km. Percayalah, semua itu butuh waktu.

Cara yang terbaik adalah menjadikan menulis menjadi rutinitas, berikut ada sedikit tips :

1. Menulis Setiap Hari

Ya harus menulis setiap hari, kalau tidak bagaimana membangun kebiasaan menulis, sedang belum terbiasa menulis sama sekali. Lah wong, kita saja bisa membalas pesan Whatsapp setiap harinya, cobalah hitung sudah berapa kata yang sudah anda tulis dipesan itu.

Yang paling simple bisa mulai dari 300 kata saja setiap harinya, tidak banyak kok, lalu coba sesekali menjadi 750 kata . Barulah kemudian 750 kata perharinya.

Nantinya anda akan sadar, perlahan-lahan menulis itu menjadi mudah kok. Entah itu tulisanya bagus atau tidak, bukan anda yang menilai. Biasanya kita akan malas menulis pada hari kedua, nah itulah tantang terberatnya. Jangan berhenti, kalau pun berhenti sementara, bacalah buku atau esai-esai ringan, itu untuk tambahan nutrisi pikiran anda.

2. Tetapkan Tujuan Menulis

Tujuan selalu menjadi hal penting, sebelum anda menulis, tujuan untuk menulis apa sih? Mau menulis esai atau menulis sebuah novel. Menetapkan arah tulisan itu, tidak perlu memaksa untuk jadi karya yang bagus. Paling penting jadikan rutinitas dahulu.

Sebagai contoh kalau anda ingin menulis sebuah novel, biasakan menulis cerita pendek (cerpen) setiap harinya. Kalaupun tidak ada ide, tulislah apa yang sedang anda rasakan saja, itu sudah sangat bagus kok

Selingi dengan berbagai macam ide penulisan, jadi tidak melulu tulisan itu-itu saja. Bisa itu sebuah curahan isi hati, kritik, esai, atau resume buku yang telah dibaca.

3. Luangkan Waktu Menulis

Mengenai waktu sudah pastinya yang paling penting, setelah berlatih kebiasaan menulis. Mulailah luangkan waktu yang cukup banyak untuk menulis. Kalau cuma diberikan waktu 10 menit perhari untuk menulis, sudah dapat dibayangkan berapa banyak tulisan yang dapat ditulis.

Berilah waktu yang cukup panjang untuk anda menulis, jangan berikan waktu sebentar-bentar saja. Mau menulis sebuah karya kok, waktu yang diberikan cuma sedikit, kecuali anda ingin menulis puisi, itu persoalan lain.

Minimal berikan waktu untuk menulis 30 menit, kalau bisa ya sejam. Nanti akan berjam-jam waktu anda menulis, tidak terasa lelah, malahan makin haus lagi untuk menulisnya lebih banyak lagi.

4. Jangan Edit Langsung

Kebanyakan dari kita, ingin tulisan terlihat bagus. Inilah letak permasalahannya, biasakan menulisa saja, lupakan keindahan kata-katanya, kalau tidak terjalin menjadi kalimat yang baik, itu persoalan nanti.

Baru menulis satu paragraf saja, sudah buru-buru dicek dan diedit. Nanti ide anda tidak mengalir dengan mudah. Biarkan ide anda  mengalir dahulu menjadi kalimat, barulah ketika sudah selesai. Bacalah ulang, dan perhatikan penggunaan kata yang salah, serta tanda baca yang kiranya belum sesuai.

Pemahaman tanda baca saya pikir penting sekali loh. Salah penempatan tanda baca, bisa-bisa nanti bisa salah tafsir nanti tulisannya.

5. Tempat Menulis

Upayakan mempunyai tempat menulis sendiri dan pada media yang tepat. Tidak dipungkiri menulis di cafe kurang melahirkan tulisan yang panjang dan menarik.

Kalau ingin coba, didalam kamar atau ruangan khusus, yang bisa menghindari kita dari kebisingan serta gangguan. Pastinya proses menulis akan terasa berbeda.

Dan untuk media sendiri lebih baik menggunakan komputer (baik PC atau Laptop), dibandingkan dengan handphone yang mudah membuat jempol cepat lelah. Tapi itu juga tergantung kemampuan pribadi juga sih.

6. Pahamilah Gaya Penulisan Sendiri

Memahami tulisan sendiri tidaklah mudah, gaya penulisan sendiri, tergantung apa yang mengilhami tulisan kita. Tapi sesekali bacalah semua tulisan anda sendiri, biar memahami perkembangan gaya penulisan sendiri.

Kita akan tahu, letak kesalahan gaya tulisan. Bisa jadi, terlalu berputar-putar, jadi maksud dari tulisan itu sendiri tidaklah jelas.

Dan bandingkanlah sesekali dengan tulisan karya orang lain, agar anda dapat memahami gaya penulisan lebih banyak lagi.

Mungkin cukup ini saja yang bisa dibagikan.  Mulailah giat menulis sebuah karya. 🙏

Lihat Juga : Bagaimana Menjadi Penulis Buku.

Toko Buku Independen

woman reading book
Photo by Pixabay on Pexels.com

I have always imagined that paradise will be a kind of library. Jorge Luis Borges

Menjual Buku

Berwirausaha diwaktu luang adalah hal menarik, terlebih usaha yang akan dibuka berkaitan dengan hobi. Barangkali yang memiliki hobi membaca buku, suatu saat nanti bisa membuka toko buku sendiri. Saya sendiri membuka usaha percetakan buku ini, pada dasarnya suka membaca dari dahulu. Inginnya sih membuka penerbitan juga namun apalah daya, baru kesasar ke dunia percetakan saja.

Baiklah, soal berwirausaha semua orang sudah tahu. Tujuannya untuk menambah pundi-pundi uang. Tetapi hal ini sangat berbeda ketika kita berbicara Toko Buku Independen, mayoritas yang membuka toko buku independen adalah bertujuan menyebarkan literasi.

Singkatnya menjual sebuah buku, sama saja kita menyebarkan pengetahuan dan budaya membaca itu sendiri. Yah kalau berbicara keuntungan finansial juga banyak sih, tapi bukan itu maksudnya.

Toko Buku Independen itu apa sih?

Sebenarnya toko buku Independen tidak terlalu banyak di Indonesia masih kurang menjamur. Sebutlah toko buku Post Santa yang berada di Ibukota Jakarta, tepatnya berada di Pasar Santa. Menurut saya toko buku ini sungguh adiluhung, semua buku yang dijual hasil kurasi pemiliknya. Jadi kita tidak lagi kesasar pada arus utama, bisa menengok referensi buku-buku yang wajib kita ketahui.

Toko Buku Independen adalah toko buku yang hanya menjual buku-buku hasil kurasi. Jangan harap ada bermacam-macam buku disana, masing-masing toko buku independen mempunyai cara kurasi tersendiri. Buku-buku yang dijual sangat layak dibaca dan bermutu loh.

Manfaat Toko Buku Independen bagi pembaca

Tidak adil memang, menilai sebuah toko buku. Tapi,,, Tapi,,, Tapi… Sadarkah minat baca belakang ini sudah menurun jauh, solusinya adalah satunya, ya ini, Toko Buku Independen.

Toko Buku Independen sangat bermanfaat sekali, apalagi yang kurang berminat membaca, bagi pembaca pemula, dan bagi yang tidak ingin terjebak dalam arus utama buku. Tidak melulu berkutat pada buku yang best seller.

Sebagai contoh, ada judul buku yang selalu dibaca dari masa ke masa, misal karya George Orwell – 1984, buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1949, dan terus dibaca orang-orang hingga kini. Bisa dibilang buku karya George Orwell 1984 adalah salah satu buku yang wajib dibaca seumur hidup kita.

Inilah manfaat toko buku independen; kita akan mendapatkan dengan mudah buku-buku yang layak dibaca. 

Toko Buku Indipenden Online

Toko buku indipenden sebenarnya sudah merambah penjualan online sejak dulu. Tidak dipungkiri menjual secara online adalah salah satu strategi mengikuti perkembangan zaman.

Ada banyak toko buku Independen yang menjual secara online, baik yang menggunakan media sosial dan marketplace. ini ada beberapa daftar nama toko yang bisa diketahui :

  • Post Santa
  • Berdikari
  • Dema Buku
  • Buku Akik

Kesemua toko buku tersebut sangat mencintai buku dan senang berbagi referensi buku untuk dibaca. Asyikan, tidak perlu repot memikirkan banyak hal, mereka telah menyediakan referensi bagi kita semua.

Lihat Juga : Kenapa Harus Membaca Buku.

Menjelajahi buku on demand

printed musical note page
Photo by Pixabay on Pexels.com

Prakata

Membuat sebuah buku dari dulu membutuhkan waktu yang cukup lama, ada proses cetak isi, kemudian cetak cover, laminasi cover, proses jilid, pemotongan buku, lalu berakhir di pengemasan plastik shrink.

Sejak awal, proses percetakan buku menggunakan sistem cetak offset dari masa ke masa. Baru belakangan ini cetak digital merambah ke dalam industri cetak Indonesia.

Cetak digital sendiri adalah adaptasi mesin printer konvensional (rumahan dan kantor) menjadi skala industri. Yang tadinya printer berukuran kecil, sekarang menjadi berukuran besar.

Kita cukup membayangkan, printer yang ada dirumah anda berukuran 20 kali lipat besarnya dan lebih berkali-kali lebih cepat.

Industri cetak digital mengenalkan platform “Print on demand”, yang berarti mencetak sesuai dengan permintaan. Mau sedikit atau jumlah banyak tidak masalah sama sekali.

Nah, kalau untuk buku yang dapat mencetak buku sesuai permintaan disebut “Book On Demand” atau “Buku On Demand”.

Bagaimana cara cetak buku on demand bekerja?

Pertama, cetak isi buku dahulu, lalu menghitung tebal buku untuk persiapan cetak cover. setelah cover selesai dicetak langsung dilaminasi. Kemudian proses penjilidan buku, pemotong buku sesuai ukuran, terakhir packing buku. Selesai deh.

Cara cetak on demand sangat sederhana, cukup dengan file yang sudah tersusun rapi, langsung cetak saja. Persis seperti print dirumah saja.

Buku on demand, apa saja yang perlu diketahui?

  • Tidak perlu cetak banyak, satu buku saja bisa dicetak
  • Kualitas cetaknya setara atau sama dengan kualitas cetak offset
  • Efesien dari segi waktu dan tenaga
  • Hemat biaya cetak
Lihat juga : Harga Cetak Buku Print On Demand.

Cetak buku on demand vs cetak buku offset.

Nah ini yang paling rumit, bicara kualitas sama. Lalu manakah yang lebih baik? Kedua sama-sama baik dan bagus sih.

  • Pertama Cetak Buku Offset itu sangat hemat biaya jika kuantitas lebih dari 1000 buku dibanding Cetak Buku On Demand.
  • Kedua Cetak Buku On Demand lebih hemat biaya jika kuantitas 1 hingga 500 buku dibanding cetak offset

Jadi Apa yang akan dipilih?

Semua itu tergantung kebutuhan anda dalam mencetak buku, kalau baru mulai memasarkan buku alangkah baik mengunakan basis cetak on demand. Kalau bukunya sudah best seller, sangat disarankan untuk mencetak dalam basis cetak offset.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Kertas HVS itu berbeda dengan A4

black and white business career close up
Photo by Pixabay on Pexels.com

Masalah HVS

Dari awal kami membuka Print Shop, banyak customer kami mengatakan “printnya dikertas hvs ya bang”, lalu kami balik bertanya, “ukuran kertasnya?”. Customer itu dengan sigap menjawab; ” masak ukuran hvs tidak tahu sih, hvs ya hvs”.

Memang benar banyak orang mengira, HVS itu sudah mempunyai ukuran tersendiri. Tapi itu salah besar ya.

Istilah HVS itu menunjukkan kepada penggunaan jenis kertas.

Pengertian HVS

HVS adalah singkatan dari bahasa Belanda yaitu HourVrij Schrijfpapier, yang berarti kertas tulis bebas serat kayu. Ciri utama dari kertas HVS sendiri adalah berwarna putih, tidak licin, dan uncoated (tidak memiliki lapisan lilin).

Penggunaannya kertas HVS ini mulai dari sekolah hingga perkantoran. Dari penggunaan surat menyurat, sampai isi buku.

Mengenai ketebalan kertas HVS juga variatif dari 60 gsm, 70 gsm, 75 gsm, 80 gsm, dan 100 gsm.

Bagaimana dengan A4 sendiri?

A4 adalah nama salah satu dari ukuran kertas, yang memiliki ukuran 21 cm x 29,7 cm. A4 sendiri adalah salah satu ukuran kertas yang terbanyak digunakan masyarakat kita.

Istilah A4 itu menunjukkan kepada penggunaan ukuran kertas.

Dari sekolah hingga ke perkantoran, umum menggunakan ukuran kertas A4 ini, salah satu ukuran kertas yang paling standar.

Seluruh toko kertas dan toko ATK, pasti menjual kertas HVS ukuran ini.

Lihat juga : ukuran kertas HVS 

Kesimpulan

Antara HVS dan A4 itu berbeda jauh, HVS sendiri merujuk kepada jenis kertas dan  A4 merujuk kepada ukuran dimensi kertas.

Jangan sampai salah kaprah mengenai HVS dan A4. Keduanya adalah hal berbeda sekali, seperti langit dan bumi.

Bagaimana Menjadi Penulis Buku

person using typewriter
Photo by Min An on Pexels.com

Apa itu Penulis?

Penulis Buku adalah orang yang telah menulis sebuah karya, baik sebuah cerita, esai, karya sastra, atau karya akademis. Di Indonesia lebih dikenal istilah Pengarang Buku.

Ada banyak alasan, kenapa orang orang menulis, entah itu karena pekerjaan mereka, ekspresi kreatif, atau bisa pula kejenuhan mereka.

Untuk menjadi penulis tidak perlu syarat mutlak, cukup kreatif dan rajin saja sih.

Tidak ada hal yang begitu rekat untuk menjadi penulis, seseorang bisa saja tiba-tiba menjadi seorang penulis. Padahal diwaktu sebelumnya hanyalah seorang pekerja kantor biasa.

Tapi yang ingin berniat menjadi penulis, mulailah dari sekarang juga. Jangan ditunda-tunda.

Bagaimana Cara Menjadi Penulis Buku

1. Pelajari diri anda dahulu dan mulailah belajar.

Yup, tak kenal maka tak sayang. Mengenali potensi diri adalah hal terpenting, sebelum mempertimbangkan profesi apapun. Bagaimana menjadi penulis buku? Membaca sebuah buku pun belum pernah.

Apalagi banyak diantara kita, yang baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku, langsung tergesa-gesa untuk menulis. Tenang, semua itu membutuhkan waktu dan proses.

Mulailah dari mempelajari dari buku-buku yang telah dibaca. Baik cara penulisan, gaya bahasa, hingga penggunaan tanda baca.

Belajar gaya penulisan yang agak sedikit sulit, kita terkadang mampu menilai setelah membaca novel, langsung berkata; “ah cerita begini doang”. Cobalah tiru, alih-alih baru sampai tiga paragraf saja ceritanya sudah tamat.

Lihat Juga : Cara Mencetak Buku.
2. Siapkan tempat dan media untuk menulis.

Bicara soal tempat, sebuah tempat dapat memberikan perasaan tersendiri dalam menulis. Tempat yang sunyi adalah pilihan tepat, dalam meluangkan waktu untuk menulis. Kalau ditempat keramaian, sebenarnya bukan pilihan bagus, Namun ketika ide datang, segerakanlah untuk menulis.

Ide untuk menulis itu bisa datang secara tiba-tiba, mulai biasakanlah menulis pelbagai media. Tidak hanya pena saja, kalau perlu semuanya. Baik itu laptop dan telepon genggam, jadikanlah media menulis juga.

Seperti Made Wianta yang terkenal lewat karya Puisi Rupa. Menulis yang tidak terbentur oleh media apapun, Dia menulis di atas kertas tisu, tiket, nota belanja, bahkan sobekan majalah. Puisi Rupa itu sendiri adalah salah satu cara merespon suatu situasi atau kondisi secara cepat, spotan, dan membebaskan.

Jangan terbentur pada pena yang bagus, telepon genggam yang canggih, apalagi laptop yang canggih (saking canggihnya dipakai buat main game saja).

3. Ciptakanlah pola pikir yang baik, jangan ragu.

Banyak yang penulis awalnya terkesima dengan tulisan yang bagus, serta kata-kata yang indah. Akhirnya mencoba membuat kata-kata yang indah dengan berpikir keras, dan hasilnya tentu saja buntu. Berkutat pada kata-kata indah sering kali meluluhkan kenginan menulis, bahkan satu paragraf pun tidak selesai-selesai. Lah wong niatnya pengen dipuji, bukan berkarya.

Nah sebelum menulis baiknya kita memiliki pola pikir yang positif, tidak perlu mengejar karya yang bagus. Jangan takut apalagi ragu, kalau tulisan tidak terasa bagus.

Memang banyak yang akhirnya berhenti menulis karena ragu dan malu, apalagi telah dapat cemohan orang-orang. Tapi tetap yakinlah, belajar perlahan-lahan, dan perbaiki gaya penulisan.

Lihat Juga : Pengertian dan Jenis Cover Buku.
4. Atasi gangguan dalam menulis, berusaha tetap fokus.

Gangguan dalam menulis itu bisa macam-macam, mulai dari diri sendiri kurang pede atau terlalu yakin sekali tulisannya bagus. Keduanya sama saja petaka besar. Menulis itu kaitannya dengan berkarya, bukan ingin dikenal. Yang paling pertama kali lawanlah diri sendiri dahulu, karena gangguan pertama kali adalah diri sendiri.

Setelah diri sendiri dapat diatasi, tentunya hal lain harus diatasi juga, seperti telepon genggam. Kalau menulis menggunakan telepon genggam baiknya aktifkan dahulu mode pesawat, agar tidak terganggu centang-centung pesan masuk.

Terakhir pastikan semua pekerjaan sudah selesai sebelum menulis, jangan sampai ditengah menulis, baru teringat kompor belum dimatikan.

5. Kalau sudah terbiasa menulis, mulailah tetapkan waktu.

Setelah mampu mengatasi gangguan menulis, mulailah tetapkan waktu untuk menulis. Entah itu setiap hari sebelum tidur, maupun menetapkan waktu sembarang ketika ada ide. Kalau bisa keduanya lebih baik.

Disiplin waktu itu baik sekali, pastinya tulisan sebuah buku akan cepat selesai. Eh tapi, jangan over pede dahulu, koreksi juga tulisan dari awal kembali. Ya, dengan mengkoreksi, kita akan tahu kesalahan kecil atau besar dalam setiap penulisan.

Tapi yang menarik itu tetap menulis disembarang waktu, baik berupa esai, puisi, maupun cerpen. Menulis sembarang waktu, seperti mengumpulkan butir-butir emas kreativitas. Jadi kedua point ini tetap dipakai, baik itu disiplin waktu menulis dan sembarangan waktu menulis, malah nanti bisa jadi dua karya buku loh.

Terakhir

Tunggu apalagi, masih saja ragu menulis sebuah buku. Karya terkenal itu tidak tahu kapan muncul, boleh jadi itu dari karya anda sendiri.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Tips Mencetak Buku Mandiri

Mencetak Buku Itu Sedikit Sulit

books placed between branches of blossoming tree
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Mencetak buku sendiri itu bisa dibilang gampang-gampang susah, menjadi sulit kalau kita tidak ingin memahami, bagaimana cara mencetak buku yang sesuai keinginan kita.

Bisa dibilang mencetak buku sedikit berbeda dengan proses percetakan pada umumnya, lewat jasa fotocopy pun tidak sama. Karena harus tahu mengenai margin (batas tepi) buku yang harus benar-benar diperhatikan, agar benar-benar nyaman dibaca.

Perkara nyaman dibacalah, yang menjadikan proses pembuatan buku, agak sedikit rumit. Kalau asal cetak saja, alih-alih bukannya bagus, malah menjadi berantakan tidak karuan.

Mulai dari susunan halaman, penempatan penomoran halaman, ukuran font, hingga ke desain cover dan isi.

Tata letak isi (paragraf dan ukuran font) maupun cover harus diperhatikan sekali, jangan sampai terlalu dekat dengan bagian dalam lem dan luar buku. Bisa-bisa nanti terkena potong, atau terlalu mepet, jadi pas buku dibuka terlalu sudut ke dalam.

Karena sebab itulah ada beberapa point sederhana yang harus kami bagikan.

Hal yang harus diketahui sebelum mencetak buku :

1. Ukuran Buku Yang Diinginkan

Coba tengok koleksi buku anda, dan pilihlah yang paling nyaman dibaca. Yup, ambil penggaris kemudian ukurlah, kira-kira masuk ke ukuran buku ya mana? Mengenai ukuran buku bisa dilihat disini.

Dari ukuran buku, kita juga bisa ukur margin (batas tepi dengan paragraf) buku tersebut.

2. Cari Desain Cover dan Tata Letak Isi Yang Sesuai Keinginan.

Ada baiknya kita melihat koleksi buku sendiri, boleh juga sesekali ke toko buku atau perpustakaan hanya untuk melihat-lihat desain dan tata letak isi yang diinginkan. Setelah itu, cari tutorial atau template desain yang diinginkan. Bisa juga melalui www.canva.com untuk desain cover.

3. Memilih Jenis Kertas Yang Cocok Untuk Buku.

Untuk sebuah buku bacaan, baiknya menggunakan book paper atau HVS. Yang paling baik untuk membaca berlama-lama, yaitu book paper. Kalau HVS agak cepat membuat mata lelah.

4. Mempersiapkan Biaya Cetak.

Nah ini, masalah terbesar adalah biaya (duit-duit). Namun seiring perkembangan zaman mencetak buku satuan sudah mudah, dan tidak perlu mengeluarkan biaya relatif tinggi. 1 buku saja bisa dicetak kok sekarang, tidak perlu banyak-banyak.

5. Pilih Tempat Cetak Buku

Tempat cetak buku sekarang ini sudah relatif banyak bisa online. Tapi pastikan tempat cetak buku itu bisa menjilid dengan Lem Panas, karena jilid dengan lem panas menjadi standar bagi buku Penerbitan.

Mungkin itu saja yang dapat kami bagi, sebagai gambaran ringkas sebelum mencetak buku karya anda sendiri.

Selamat Menulis..

Lihat juga : Template Layout Buku.

Kenapa Harus Membaca Buku

white ceramic teacup with saucer near two books above gray floral textile
Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Harus membaca buku, iya memang wajib kok.

Membaca buku adalah aktivitas yang memiliki banyak manfaat, bagi pribadi maupun orang lain. Tradisi membaca buku telah berjalan sudah lama sekali, semenjak manusia mulai belajar tulis menulis.

Seperti kita tahu, buku salah satu sumber pengetahuan kita. Bisa menambah pengetahuan serta wawasan. Belajar dari pengalaman saja tidak cukup, maka baiknya kita harus membaca buku lebih rutin lagi.

Karena membaca adalah suatu cara mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Tak hanya sebuah tulisan saja, ini merupakan hasil pemikiran seorang penulis.

Aktivitas membaca itu mempunyai tujuan yang baik, entah itu karena dikejar oleh ujian sekolah. Aktivitas membaca sendiri adalah salah satu cara menghibur diri sendiri, contohnya dengan membaca novel.

Ada banyak buku-buku yang bisa mengubah pemikiran kita, seperti buku biografi ataupun buku motivasi.

Lantas, untuk apa sih kita membaca?

  1. Mendapatkan dan terhubung dengan pengetahuan baru, kita bisa memahami berbagai pemikiran penulis (orang).
  2. Dapat memberikan kita kesempatan untuk bereksperimen atau menguji, lebih tepatnya bisa memikirkan dan mencoba, apa yang dimaksud oleh penulis.
  3. Terjadi dialog pemikiran, karena dalam suatu bacaan itu, banyak sekali lemparan pertanyaan.
  4. Menikmati keindahan kata-kata yang diberikan oleh penulis. Pada akhirnya kita bisa mengerti keindahan kata-kata itu sendiri.
  5. Dengan membaca, pikiran kita menjadi terstruktur, tidak seperti tumpahan air yang melimpah kesana kemari.
Lihat juga : Manfaat Membaca Buku.

Apalagi kebiasaan membaca sudah biasa kita tanamkan dari sejak kecil. Tentu hal ini akan menambah keragaman kosa kata kita. Fungsi kreativitas akan terus bertambah seiring dengan perkembangan usia.

Menanamkan keyakinan bahwa membaca buku adalah hal positif ini yang paling penting sekali.

Sudah banyak sekali contoh kenapa kita harus membaca buku. Minimal 1 buku saja 1 bulan. Nanti ditambah seiring dengan perkembangan waktu.

Kalau kita sudah membaca hingga 3-4 buku, pastinya rasa ingin tahu akan terus bertambah. Dan tidak kerasa akan banyak buku yang telah dibaca.

Terakhir, jangan pernah berhenti membaca buku ya. Membaca buku itu banyak sekali manfaatnya. Sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang harus diutarakan lagi. 🙏