Arsip Kategori: serba serbi

Buku Itu?

man standing inside library while reading book
Photo by Mark Cruzat on Pexels.com

Buku adalah benda yang selalu dibaca dan dilupakan begitu saja. Sebagian orang yang menganggap isi buku lebih penting dari pada bentuknya, ada juga yang masih sibuk mencari kesempurnaan bentuk bukunya.

Memang benar, sesuatu yang kurang tidak begitu mengenakkan, sesuatu yang tidak sempurna terasa memekakkan perasaan. Terlebih semua itu membutuhkan pengorbanan, dari yang menabung jauh-jauh hari, hingga mengurangi jatah makan.

Buku itu sesuatu benda yang berarti, ada yang menganggapnya mahal, adapula yang menganggapnya buat apa? Bagi segelintir orang, buat apa baca buku, “bikin pusing kepala saja” atau “seperti orang pintar aja baca buku”.

Yah, kira-kira seperti itulah orang menilai, baik cakap atau buruknya.

Lebih baik menceritakan mengenai buku itu?

Bagaimana Buku Itu Sebaiknya Terlihat

Menarik Dari Segi Sampul

woman reading harry potter book
Photo by Dids on Pexels.com

Banyak buku yang memiliki sampul yang menarik, bahkan kemasannya begitu fantastis (dari segi kertas), hingga desain yang sangat menarik. Ada pula yang tertarik karena sampulnya yang menarik dan sesuai citra isi buku itu sendiri.

Namun ada pula yang desain sampul yang kurang merepresentasikan pesan dari isi buku tersebut, ini covernya kesasar kemana-kemana.

Sampul yang menarik tidak hanya berupa warna, ilustrasi gambar, atau hasil fotografi yang menarik. Sampul buku yang menarik mampu memberi sebagian pesan apa isi buku tersebut.

Lihat Juga : Pengertian Sampul Buku.

Tata Letak Isi Yang Rapi

Kerapihan itu untuk memudahkan para pembacanya. Agar dapat membaca berlama-lama dan menikmati isi buku tersebut. Isi buku itu tidak oleh mata saja menikmatinya, melainkan juga pikiran dan hati juga ikut menikmati lebih dalam.

crop faceless woman reading book on bed
Photo by Koshevaya_k on Pexels.com

Misal sebuah novel, pastinya membacanya memakan waktu yang lama. Novel yang menarik memilik tata letak paragraf dan jarak antar tulisan yang baik, biar mata bisa membaca kanan kiri dari teks tersebut dengan nyaman.

Jenis Tulisan Yang Terbaca Baik

book page
Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Memangnya kita tidak bisa menggunakan sembarang tulisan, pastinya tidaklah. Setiap jenis tulisan memliki ciri khas bahkan memiliki fungsinya masing-masing.

Tidak hanya bentuknya yang bagus, modern, classic, atau futuristik. Memilih bentuk tulisan haruslah sesuai dengan genre.

Bentuk tulisan yang sesuai genre, itu sangat membantu pembacanya menyelami tulisan tersebut. Tapi jangan lupa, perhatikan bentuk tulisan, pilihlah yang bentuk tulisannya yang terbaca dengan mudah, baik pada waktu dibaca cepat atau berlama-lama.

Lihat Juga : Buku Cetak VS Ebook.

Menggunakan Kertas Book Paper

a rose bookmark on an open book
Photo by Dario Fernandez Ruz on Pexels.com

Tahu tidak? Kertas Book paper memiliki warna buram kuning kecoklatan, sangat nyaman membacanya berlama-lama. Bukan persoalan lamanya, poin paling pentingnya adalah tidak cepat membuat mata kelelahan.

Memang wajar rata-rata novel menggunakan kertas book paper pada isi bukunya, karena novel sendiri memang membaca butuh waktu lama, membuat hanyut dan larut para pembacanya kedalam sebuah cerita.

Adapula segelintir orang menyukai aroma yang khas dari kertas book paper ini, bahkan adapula yang menyukai aroma tinta cetak sebuah buku seperti Umberto Eco, “I love the smell of book ink in the morning.”

Kualitas Cetak Yang Bagus

white soft tube bottles
Photo by Ulrich Scharwächter on Pexels.com

Hasil cetakkan yang baik akan mempengaruhi kebahagian membaca buku, sebaiknya menggunakan kualitas cetak beresolusi tinggi, untuk menciptakan tulisan yang padat dan tidak buram. Kenapa padat? Ada banyak hasil cetak yang berbayang dan tulisannya berpedar.

Untuk isi buku baiknya menggunakan tinta yang matte, bukan glossy. Sekarang ada banyak sekali hasil print digital (bukan cetak offset) yang hasil glossy, tentu ini akan membuat mata kita tidak nyaman, membuat mata cepat lelah.

Alangkah baiknya memakai cetak offset atau print digital yang hasilnya setara dengan offset, ini akan membuat buku memiliki hasil cetak yang bagus dan sempurna.

Lihat Juga : Apa Itu Jilid Lem Panas?

Alasan Penting Membaca Buku Pada Masa Sulit

“Bacalah buku-buku terbaik dulu, atau Anda mungkin tidak memiliki kesempatan untuk membacanya sama sekali.” – Henry David Thoreau

person reading interesting book in hands
Photo by Gary Barnes on Pexels.com

Selama pandemi ini telah membawa banyak perubahan dan tantangan besar, salah satu yang paling menonjol adalah perubahan ekonomi, tidak hanya cara kerjanya saja melainkan cara hidup kita juga berubah.

Sementara dunia sedang berubah, banyak pula bisnis mengalami penurunan yang luar biasa dari segi pendapatannya. Tapi para penjual buku (khususnya yang berbasis online) mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Penjualan buku ternyata makin melonjak selama pandemi ini, terutama buku novel dan buku bisnis. Dibeberapa market place sendiri seperti Tokopedia, mengalami lonjakan sampai 2,5 kali lipat penjualan bukunya, dan kami pun merasa seperti demikian pula.

Hal ini tidak terjadi di Indonesia saja, di Eropa dan Amerika mengalami lonjakan penjualan buku signifikan pula.

Lalu mengapa buku menjadi hal penting Selama Masa Sulit pada Pandemi ini :

Buku Sarana Edukasi Yang Baik.

Mari kita lihat secara akurat, buku adalah sumber informasi yang cukup handal dari dahulu kala. Tak diayal selama pandemi ini banyak sekali informasi yang salah kaprah, bahkan kita juga bosan dengan berita yang itu-itu saja.

Buku mampu memberikan ruang tersendiri, tidak terganggu berita serta informasi yang salah kaprah. 1 jam membaca buku dengan 1 jam melihat telepon genggam sangatlah berbeda, contoh artikel ini saja, cukup dengan waktu 3-5 menit saja selesai membacanya. Tapi apakah memberi informasi yang cukup banyak? Sedikit sekali.

Buku Adalah Bentuk Pelarian Positif

Terlepas dari perkembangan teknologi, buku termasuk teknologi informasi yang pertama kali diciptakan manusia, yang masih dipakai hingga kini. Bahkan ini adalah salah satu sarana pelarian yang positif, memberikan waktu cukup panjang. 1 buku bisa kita dalam waktu 3-7 hari diwaktu senggang kita.

Membaca buku dapat membuat kita fokus sementara waktu, melupakan hal-hal yang mencemaskan dan beratnya kondisi yang sedang dihadapi. Dan kita sendiri mendapat ide-ide baru yang tidak pernah terpikirkan. Tidak percaya, cobalah langsung.

Buku Memberikan Kenyamanan

Tapi jangan membaca buku yang berat-berat isinya. Ada banyak buku yang ditulis sederhana dan tentunya tidak membosankan, yang dapat membuat kita masuk dan larut dalam buku itu sendiri.

Saya sendiri tidak ingin memberikan contoh buku yang patut dibaca, karena ini masalah kegemaran seseorang. Tapi ada banyak sekali situs memberikan informasi buku-buku yang wajib dibaca sekali seumur hidup.

Buku Memberikan Informasi Lengkap

Apakah internet bisa memberikan informasi cukup lengkap? Bisa juga iya atau bisa juga tidak. Tidak dipungkiri, informasi yang dilansir di internet tidak cukup lengkap. Bahkan yang menulisnya saja belum tentu pakarnya langsung.

Lewat buku, kita dapat menerima informasi yang cukup tepat dan banyak, serta memberikan banyak pandangan. Bagian terbaik dari menghabiskan membaca 1 buku adalah kita mendapatkan informasi yang sempurna, tidak setengah-setengah.

BACA JUGA : Buku Cetak VS Ebook.

Buku Cetak vs Ebook

Pandangan Mengenai Buku Cetak Dengan Ebook

Buku dan ebook sebenarnya bukan masalah baru. Ebook hadir beberapa tahun belakangan, dan masih bertahan hingga kini. Namun tetap saja menjadi dilema penggunaannya.

Sekarang ini sudah beberapa Penerbit di Indonesia mulai beradaptasi dengan ebook, semenjak adanya Aplikasi Google Play Books (maaf tidak tahu soal aplikasi iPhone, apalagi Kindle)

kindle technology amazon tablet
Photo by freestocks.org on Pexels.com

Sayangnya baik ebook dan buku cetak belum dipandang betul di Indonesia. Yah bisa dibilang, karena budaya malas baca. Untungnya perkembangan literasi visual cukup bagus, dengan maraknya penggunaan YouTube, yang memiliki konten edukasi didalamnya. Tapi ada beberapa yang menyesatkan juga.

Bicara budaya membaca sebenarnya kebutuhan krusial, tidak cukup hanya melek huruf saja. Melek secara pemikiran kritis sangat perlu.

Sebenarnya kehadiran ebook sangat membantu sekali keberadaan buku cetak. Kita bisa melihat beberapa halaman versi ebooknya sebelum memutuskan membeli bukunya. Kalau ditoko buku belum tentu bisa semudah ini, terkadang harus buka segel plastiknya dahulu, baru bisa melihat ke dalam isi bukunya.

Kalau di luar sana ,Penerbit sangat memanfaat sekali fitur ini. Customer sering kali melihat dahulu ebooknya di Google Play Books, baca beberapa halaman gratisnya. Lalu customer dapat memutuskan membeli buku fisiknya di market place.

Buku Cetak

Buku cetak memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki nuansa buku secara sempurna. Kita dapat merasakan memegang buku, membalikkan halaman buku satu persatu, hingga merasakan bentuk serat kertas melalui sentuhan jari.

Terlebih buku cetak, pilihan terbaik dalam membaca sebelum kita tidur, tidak membuat ketegangan mata dibandingkan membaca melalui telepon genggam. Alih-alih ingin membaca buku lewat telepon genggam, malah tambah sulit tidur.

Kalau bicara, dibawa kemana-mana, pastinya ebook lebih mudah. Cukup mengandalkan telepon genggam anda saja sudah cukup. Tidak repot membawa banyak buku, untuk menjalani keseharian.

Lihat Juga : Ukuran Standar Buku.

Ebook

Ebook memiliki desain yang berbeda dengan buku cetak, layout bukunya saja berbeda jauh dengan buku cetak. Di Aplikasi Google Playbook sendiri, mengenalkan tata letak model Flowing Text, jauh berbeda dengan tampilan buku umumnya.

Adaptasi tampilan ebook sangat membantu proses membaca ebook, tapi sayangnya tidak merasai sudah berapa halaman sudah membaca. Tidak dipungkiri tebalnya sebuah buku, menjadi tantangan sendiri dalam motivasi membaca buku lebih banyak lagi.

Lihat juga : Kelemahan Ebook.

Perbandingan Harga

Ebook sendiri, harusnya lebih murah dibandingkan buku cetak. Entah kenapa di Indonesia, harganya masih sama dibandingkan buku cetak. Hal ini menjadi penghalang besar, perkembangan ebook di Indonesia.

Para pembaca buku tentunya mengharapkan harga yang lebih murah dari buku cetak. Mungkin ada alasannya lain, terlebih buku bajakan di Indonesia sangat merajalela. Tentu akan mengkhawatirkan, bagi penerbit sendiri. Niatnya mencari tambahan untung (lebih tepatnya bertahan, karena banyak sekali penerbit sekarang yang gulung tikar) malah tidak mendapatkan apa-apa.

Tapi ada baiknya mempertimbangkan harga yang didapat karena memperoleh tambahan informasi serta pengetahuan dari buku. Pengetahuan adalah investasi terbesar bagi pribadi.

Kesimpulan

  • Buku cetak membuat merasakan lebih fisik buku, dapat memegangnya, membalikkan halamannya, serta merasakan serat kertasnya.
  • Buku cetak lebih bersahabat dan nyaman untuk mata, tidak membuat mata tegang dan kelelahan.
  • Buku cetak tidak memerlukan sama sekali listrik.
  • Ebook dapat dibawa kemana-mana beberapa judul buku dalam 1 perangkat saja.
  • Ebook bisa disimpan dengan baik dalam satu gadget, tidak memerlukan sama sekali rak buku, tidak ada resiko rusak.
  • Ebook dapat dibaca dalam tempat gelap, tidak membutuhkan penerangan, tapi resikonya tinggi juga, terhadap mata.
Lihat Juga : Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku.

Beberapa Macam Genre Buku

Prakata

opened book on white cloth near dandelion flowers
Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Memilih sebuah buku yang baik sebenarnya tidak ada patokannya. Tidak ada buku yang tidak baik, buku terlaris pun juga tidak melulu bisa dikatakan buku yang bagus. Bagi segelintir orang, buku memiliki manfaat, nilai, dan arti tersendiri.

Membicarakan buku, seperti membicarakan perjalanan panjang, tidak tahu kini telah ada berapa buku yag sudah tercipta dimuka bumi ini, dan berapa banyak buku yang sudah terbaca oleh orang-orang, belum lagi, berapa banyak buku yang telah punah ditelan oleh zaman.

Sebutlah novel tertua didunia itu The Tale of Genji, tidak jelas juga novel ini sudah berapa kali dibaca dan tercetak, dan berapa orang yang hidupnya dipengaruhi buku tersebut.

Bagi yang ingin mengeluti dunia baca, ada baiknya mengenal genre buku dahulu, tapi sebenarnya tidak tepat juga, langsung pergi saja ke toko buku minimal akan menemukan buku yang menarik dari toko buku tersebut.

Genre Buku itu ada banyak macamnya, dan terus berkembang. Tidaklah tepat mengatakan berapa jumlah genre buku. Kenapa? Karena buku adalah hasil pemikiran manusia, yang tentunya akan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Ada beberapa macam Genre Buku yang umum dibaca yaitu :

1. Aksi dan Petualangan

Seperti dalam dunia film saja, genre ini selalu membuat kegembiraan. Karena karakter utama dalam buku selalu menemukan sesuatu yang beresiko dan punya masalah terus 🙂 (kasihan sekali hidupnya). Akhirnya dapat menyelesaikan semua resiko dengan jalan berbahaya dan terselesaikan dengan cara yang tidak memungkinkan.

2. Klasik

Sebutlah buku karya Charles Dickens, bukunya terbit pertama kali berjudul The Pickwick Papers tahun 1836. Kalau admin sendiri baru sempat membaca Great Expectations dari Charles Dickens, buku ini selalu ada dibeberapa rak buku toko buku ternama. Seperti karya sepanjang masa saja.

Genre Klasik sebenarnya sangat menarik, kadang yang menjadi pertanyaan bagaimana orang dahulu kala dapat menulis dengan pemikiran yang sangat jauh dan bagus sekali .

3. Komik

Kok komik masuk ke dalam satu genre buku? Cerita dalam komik itu disajikan dalam bentuk gambar yang menarik, berurutan yang disajiikan secara naratif loh. Kita dapat membaca tulisan-tulisan lewat “balon-balon” kata pada setiap gambarnya.

4. Detektif dan Misteri

Dalam genre ini acapkali berkisar pada tindak kejahatan yang harus diselesaikan. Salah satu yang kita kenal karya Sir Arthur Conan Doyle melalu karyanya The Adventures of Sherlock Holmes.

Kepiawaian dalam memecahkan teka-teki, menjadi bagian yang menarik dalam membaca buku genre ini. Kita dibimbing kedalam hal yang tidak mungkin ditemukan akal sehat.

5. Fantasi

Genre ini umumnya berlatarkan pada dunia khayalan fiksi, yang mencakup elemen-elemen penting dari sihir, mitologi, atau supernatural. Genre ini selalu berkaitan erat dengan genre adventure dan genre lainnya.

6. Fiksi Sejarah

Genre ini mengambil setting waktu tertentu dari masa lalu yang tentunya tidak sesuai dengan kenyataan realnya. Bahkan sangat bertentangan dengan sejarahnya, dan ada juga yang terlihat sangat mirip juga.

Sebutlah salah satu karya Gabriel Garcia Marquez dalam One Hudred Years of Solitude, ini termasuk fiksi sejarah yang cukup menarik untuk dibaca.

7. Horor

Ih serem, genre ini sangat terkesan dengan sesuatu yang menyeramkan, membuat berdegub kencang. Genre ini tidak hanya membuat kita tidak nyaman tapi menggiring kita terus dalam penasaran yang jauh. Kalau mengenai Horor yang tidak jauh masternya Stephen King.

8. Sastra Fiksi

Genre ini sangat luas sekali, bisa mencakup banyak genre lainnya, Sastra Fiksi mengacu kepada gaya penulisan artistik pengarang, yang bisa membangkitkan pemikiran mendalam melalui cerita dalam buku tersebut.

9. Romance

Ingin rasanya melewati bagian genre ini, Genre yang berkisar kisah percintaan romantis ini, mempunyai banyak penggemar dari berbagai kalangan usia. Genre ini membuat hati kita bisa hangat, berbunga-bunga, bahkan bisa larut kedalam kesedihan.

10. Fiksi Ilmiah (Sci-Fi)

Kadang sering dianggap sama dengan genre fantasi, yang membedakan dari cerita fiksi ilmiah adalah sangat bersandar pada tema teknologi dan sains masa depan.

11. Cerita Pendek

Cerita pendek adalah prosa singkat yang secara jelas lebih pendek dari novel. Genre ini menceritakan narasi dan rangkaian adegan yang singkat. Biasanya genre ini dibukukan dalam kumpulan cerpen.

12. Thriller

Genre ini bersifat menegangkan, menampilkan upaya tokoh utama untuk menghentikan dan mengalahkan penjahat, yang berupaya untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri, daripada mengungkap kejahatan.

13. Fiksi Perempuan (Women’s Fiction)

Fiksi Perempuan ditulis khusus untuk pembaca perempuan, yang seringkali merefleksikan pengalaman perempuan dalam masyarakat dan pribadinya.

14. Biografi dan Otobiografi

Dari namanya kita sudah tahu mengenai genre ini, yang mengungkap sejarah kehidupan seseorang, entah itu baik atau buruknya. Yang pasti bisa mengungkap sejarah tertentu.

15. Esai

Ditulis dengan sudut pandang penulisnya yang merefleksikan topik tertentu entah kritik atau cara pandang terhadap tema tertentu. Tema ini sangat menarik untuk dibaca dan menambah wawasan baru juga.

16. Sejarah

Genre buku ini mencatat letak dan moment tertentu dalam sejarah, yang tentunya bertujuan untuk menginformasikan serta mendidik pembacanya. Dengan buku sejarah kita dapat melihat bagian waktu dunia tertentu.

17. Memoir

Berbeda dengan otobiofrafi, memoar lebih fleksibel, tidak menampilkan catatan kronologis. Lebih fokus kepada momen yang dapat memberikan pesan dan pelajaran tertentu pada pembaca. Salah satu buku yang bisa dibaca karya Michelle Obama yaitu Becoming.

18. Puisi

Banyak sekali puisi yang sudah dibukukan, genre ini salah satu genre yang termasuk dinikmati, karena puisi termasuk bentuk seni tulis yang dapat membangkitkan atau memberikan kedalaman emosi. Ada banyak pesan yang tersembunyi dalam puisi, yang sulit ditafsirkan.

19. Self-Help

Genre ini berfokus kepada kesehatan emosional, atau spiritual. Buku-buku genre ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pribadi dalam berbagai aspek kehidupan.

Lihat Juga : Masalah Dalam Mencetak Buku.

Masalah Dalam Mencetak Buku

Persoalan Dalam Mencetak Buku

Dicetak atau diprint, apalah itu istilahnya, bukanlah perkara mudah untuk menjelaskannnya. Dalam mencetak tidak melulu langsung cetak begitu saja. Kalau langsung mencetak tanpa mengkoreksi filenya terlebih dahulu, alih-alih ingin cepat selesai malah buku menjadi berantakan tidak karuan.

Yup, mencetak buku bukanlah persoalan beruntung. Kalau hasilnya bagus bukan berarti karena Dewi Fortuna sedang bertengger didekat anda loh. Apalagi setiap file naskah tidaklah dalam kondisi yang sama. Ada berbagai persoalan dalam proses pembuatan sebuah buku yaitu :

green and black industrial machine
Photo by Wendelin Jacober on Pexels.com

1. Font Berubah (missing font)

Missing font adalah masalah yang paling umum, apalagi yang menggunakan purna rupa font dalam penulisan sebuah buku. Kalau lupa di embedded pada file PDF-nya, maka yang terjadi tidak semua jenis Font dapat tercetak.

Hal yang perlu digarisbawahi meski dalam file PDF-nya semua terlihat sudah pas tidak ada font yang hilang, pas dicetak pas dicetak bisa hilang loh, karena fontnya tidak tersedia dikomputer tukang cetaknya.

Solusinya pastikan font sudah ter-embed pada file anda.

2. Warna Tidak Pas

Nah bicara warna agak kurang PD nih, terlebih terbiasa cuma cetak hitam putih saja. Sebenarnya masalah warna sering terjadi, karena perbedaan tekstur kertas, yang dapat menyebabkan perbedaan daya serap tintanya.

Sekali-kali tengoklah tukang cat rumah bagaimana mereka bekerja, pada sisi-sisi tertentu, warna putih cat tidak maksimal, dibanding dengan sudut dinding yang lain. Pada bagian tembok kelembaban tinggi, pasti warna catnya kurang pekat.

Seperti inilah yang terjadi pada isi buku, khususnya antara book paper dan HVS. Warnanya sama tapi karena daya serap tinta dan warna dasar kertas berbeda, hasilnya akan berbeda. Jangan harap kertas book paper hasilnya berwarna pekat, kecuali pakai print laser, pasti hasilnya sama saja, kalau printer laser kan tintanya menempel tuh, bukan menyerap.

3. Kualitas Kertas Menurun Tiap Tahunnya.

Sebagai orang yang sering memakan asam garam pulp kertas. Tentu tahu sedikit mengenai kualitas kertas makin tahun makin turun. Mulai dari serat kertasnya hingga ketebalannya.

Ketebalan yang paling terasa menurun. Pernah berberapa kali mencetak ulang buku dengan judul yang sama, sangat merasakan ketebalan kertas menurut sedikit.

Lah wong kemarin mencetak ulang buku yang sama, tadinya tebal buku 2 cm sekarang jadi 1.9 cm buku. Sedikit sih, tapi kalau sampai 2 mm itu namanya kebangetan.

Belum lagi, bicara kekakuan kertas art carton. Kalau dahulu kertasnya sudah tebal dan kaku pula, sekarang jadinya kurang tebal dan agak lemas.

4. Waktu Yang Kepepet.

Bikin buku tidaklah sebentar, bisa makan waktu 3-4 hari (itu kalau kita yang buat). Tidak bisa cepat? Ya susah juga jawabnya.

Seringnya, sudah waktunya besok hari buku itu harus tercetak. Barulah kita mencari percetakan buku.

Percetakan Buku itu sebenarnya berbeda dengan Print Shop atau Tempat Fotocopy, meskipun beberapa tempat tersebut mampu mencetak buku dalam satu waktu, namun segi biaya cukup fantastis.

Nah mengenai proses mencetak beberapa judul buku dalam satu waktu itu agaklah rumit. Pertama buku di layout pra cetak dahulu, kedua proses cetak, ketiga penjilidan, keempat packaging.

Kalau cuma 1 judul buku yang dikerjakan oleh Percetakan Buku perhari ya bisa cepat, tapi kalau mereka ada 50 judul buku saja perhari, pastilah susah mengatur proses cetak semua buku itu

Akhirnya

Yang paling penting sih kita harus memahami bagaimana cara mencetak buku, agar tidak terjadi kesalahan fatal. Terlebih buku terdiri dari susunan beberapa halaman, salah satu halaman saja, bisa merevisi seluruh halaman buku loh.

Semua permasalahan diatas adalah hal yang paling umum dihadapi dalam mencetak buku. Sebenarnya masih banyak lagi masalah dalam mencetak buku yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu, kurang lebihnya kami mohon maaf.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Cara Membangun Kebiasaan Membaca Buku

a romantic setting in the bathroom
Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Menulis artikel ini agak berat memang, terlebih kebiasaan membaca buku saja belum mumpuni. Masih banyak buku yang belum sempat terbaca dan lagi, ada beberapa buku juga belum selesai terbaca.

Bicara kebiasaan, sebenarnya berkaitan dengan rutinitas. Bangun pagi lalu gosok gigi, makan siang tepat waktu, dan semua yang kita lakukan berulang-ulang secara tepat.

Membaca buku sebagai bagian rutinitas sangat baik dan sangat aman, karena tidak akan menimbulkan kelebihan kolesterol pada tubuh.

Sayangnya kebiasaan membaca buku biasanya terhenti ketika kebutuhan terhadap pendidikan sudah usai. Mayoritas ketika sudah masuk dalam dunia pekerjaan, kebiasaan membaca buku akan pelan-pelan hilang. Padahal ada banyak buku yang bisa dibaca sebagai alternatif waktu luang.

Membaca buku itu jangan samakan dengan menghapal, dan tidak selalu untuk menjadi pintar. Baiknya membaca buku itu, sering terjadi dialog dalam pikiran. Simplenya pikiran bisa berpikir jauh kemana-mana.

Sebenarnya ada beberapa cara untuk membangun kebiasaan membaca buku :

1. Sediakan Waktu Khusus Untuk Membaca

Inilah yang paling penting, banyak dari kita kurang menyediakan waktu khusus untuk membaca. Padahal, waktu yang tersedia tidaklah harus cukup lama :

  1. Pagi hari 30 menit
  2. Sebelum tidur 40-60 menit
  3. Hari libur 1-2 jam

Waktu tersebut tidaklah harus akurat, itu tergantung kita mau menyediakan waktu itu sendiri. Tidak bisa pungkiri, kesibukan adalah beban utama dalam menyediakan waktu.

2. Tujuan Membaca

Apa sih tujuan membaca? Kalau cuma ingin terlihat pintar, yah cukup menenteng buku saja kemana-mana. Otomatis, orang-orang sekitar akan menilai bagus. Tujuan membaca buku bagi setiap orang berbeda-beda, tapi bagi yang ingin memiliki kebiasaan membaca buku, baiknya mempertimbangkan tujuan membaca.

Tujuannya sederhana, membaca buku ada dua pilihan pertama; untuk menambah pengetahuan pribadi dan kedua hiburan waktu luang.

3. Jadikan Telepon Pintar Sebagai Media Baca

Kesibukan dan beratnya membawa buku sebenarnya bukan masalah penting sekarang ini. Lewat telepon pintar sekarang ini sudah bisa membaca buku, lewat Google Playbook salah satunya, sudah banyak sekali ebook tersedia.

Dan membangun kebiasaan tidak melulu harus lewat buku, bisa saja membaca Esai-esai dari Mojok.co sebagai alternatif media baca.

4. Kembangkan Daftar Yang Ingin Dibaca

Daftar bacaan sebenarnya tidak begitu penting sih, menjadi perlu tahu kemana arah membaca buku. Kalau tidak memiliki daftar buku, bisa kesasar kemana-mana, dan akhirnya minat baca menurun.

Tapi biasanya setelah kita membaca lebih 20 buku, daftar bacaan buku akan tercipta otomatis. Jadi ingin tahu mengenai buku lainnya.

5. Jangan Jadikan Kebiasaan Membaca Sebagai Tantangan.

Saya pikir kebiasaan membaca buku bukanlah sebuah tantangan, kalau jadikan tantangan bisa-bisa malah drop nantinya. Jadikan saja sebuah alasan agar hidup lebih baik saja sudah cukup.

Kebiasaan membaca buku itu agar kita tidak terjebak kebosanan dan rutinitas harian yang begitu-gitu saja.

Lihat Juga : Beberapa Kelemahan Ebook. 

Beberapa Kelemahan Ebook

black tablet computer behind books
Photo by Perfecto Capucine on Pexels.com
“I love the smell of book ink in the morning.” Umberto Eco.

Kutipan tersebut itu tidaklah bohong aroma buku memberikan rasa nyaman tersendiri. Saya sendiri sesekali mencium aroma buku pada sela lelah membaca buku. Lain dengan ebook tidak memiliki aroma seperti buku.

Ebook adalah sebuah buku dalam format digital (file) yang hanya bisa kita gunakan melalui perangkat elektronik seperti komputer dan telepon pintar. Ebook hadir semenjak adanya komputer, dan makin populer ketika telepon pintar (yang berbasis android dan ios). Ada juga buku dalam format audio, menarik sih ketika mendengarkannya, sayangnya masih dalam bahasa inggris, tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Baik ebook dan buku audio, perkembangannya tidak terlalu signifikan, belum bisa menggantikan buku fisik sebenarnya. Memang buku dalam bentuk susunan kertas belum bisa tergantikan hingga kini.

Tidak salah juga, kalau harus membicarakan sisi kekurangan ebook. Berikut beberapa hal yang sudah saya rangkum :

Tidak Nyaman Dibaca

Bicara kenyamanan adalah hal pertama yang paling penting, sebelum menggeluti kegiatan apapun. Membaca lewat telepon genggam masih terasa kurang nyaman, karena susunan teksnya yang begitu rapat dan padat. Jarak antar kata terlalu dekat, dan spasinya sedikit.

Belum lagi karena ukuran layar yang kecil, ukuran font pun jadi ikutan kecil. Makin sulit saja deh membaca ebooknya. Kalau memiliki dana lebih cobalah pakai Tab.

Sulit Konsentrasi

Membaca lewat perangkat telepon genggam akan ada saja gangguan konsentrasi. Entah itu pesan WhatsApp, dan notifikasi aplikasi tertentu.

Kalau membaca lewat telepon genggam harus menonaktifkan notifikasi, agar konsentrasi tidak mudah buyar. Namun tetap saja keinginan melihat aplikasi ada.

Masalah Kesehatan Mata

Kita sudah tahu, berlama-lama pada layar telepon genggam atau komputer, dapat membuat mata cepat lelah. Belum lagi dampak buruk dari radiasi layar perangkat elektronik. Masih menunggu beberapa kurun waktu mencapai teknologi layar sempurna dan aman untuk mata.

Sulit Dibaca Ketika Terkena Sinar Matahari.

Nah ini, pantulan cahaya matahari pada layar, menyebabkan terbatasnya tempat baca. Tak hanya dalam kamar, membaca buku acapkali kita lakukan depan beranda rumah.

Kalau pancaran cahaya terlalu tinggi, pantulan cahaya cukup menyilaukan mata ini.

Mudah Dibajak

Kenapa mudah dibajak, ketika buku dalam bentuk file akan mudah berpindah-pindah tangan, terlebih ukuran filenya kecil. Seperti kita tahu hal ini akan merugikan penerbit serta penulis. Dan lagi penyebarannya sangat banyak dalam dunia maya, jika kita bandingkan buku fisik. Kita sering beranggapan dapat mengunduh dengan bebas berarti legal, itu salah besar.

Memerlukan Perangkat

Meski telepon genggam adalah alat yang sudah familiar sekarang ini, tetap saja belum terjangkau berbagai kalangan.

Kalau buku fisik, meski kita tidak mampu membelinya. Kita masih bisa meminjamnya berbagai perpustakaan terdekat.

Rawan Dari Virus

Alih-alih mencari ebook gratisan, malah beresiko perangkat kita terkena virus. Ada banyak situs yang menyediakan ebook gratis, tapi sisi keamanannya sangat rendah. Hal ini menyebabkan perangkat anda rentan terkena virus. Belum lagi bila kita mengambil dari komputer yang sudah terkena virus, komputer kita bisa terkena virus juga.

Untuk mengunduh ebook dengan legal dan aman sebenarnya kita bisa. Salah satunya di Project Gutenberg, tersedia ada 60.000 ebook gratis dan tentunya legal.

Lihat juga : Toko Buku Indie.

Toko Buku Independen

woman reading book
Photo by Pixabay on Pexels.com

I have always imagined that paradise will be a kind of library. Jorge Luis Borges

Menjual Buku

Berwirausaha diwaktu luang adalah hal menarik, terlebih usaha yang akan dibuka berkaitan dengan hobi. Barangkali yang memiliki hobi membaca buku, suatu saat nanti bisa membuka toko buku sendiri. Saya sendiri membuka usaha percetakan buku ini, pada dasarnya suka membaca dari dahulu. Inginnya sih membuka penerbitan juga namun apalah daya, baru kesasar ke dunia percetakan saja.

Baiklah, soal berwirausaha semua orang sudah tahu. Tujuannya untuk menambah pundi-pundi uang. Tetapi hal ini sangat berbeda ketika kita berbicara Toko Buku Independen, mayoritas yang membuka toko buku independen adalah bertujuan menyebarkan literasi.

Singkatnya menjual sebuah buku, sama saja kita menyebarkan pengetahuan dan budaya membaca itu sendiri. Yah kalau berbicara keuntungan finansial juga banyak sih, tapi bukan itu maksudnya.

Toko Buku Independen itu apa sih?

Sebenarnya toko buku Independen tidak terlalu banyak di Indonesia masih kurang menjamur. Sebutlah toko buku Post Santa yang berada di Ibukota Jakarta, tepatnya berada di Pasar Santa. Menurut saya toko buku ini sungguh adiluhung, semua buku yang dijual hasil kurasi pemiliknya. Jadi kita tidak lagi kesasar pada arus utama, bisa menengok referensi buku-buku yang wajib kita ketahui.

Toko Buku Independen adalah toko buku yang hanya menjual buku-buku hasil kurasi. Jangan harap ada bermacam-macam buku disana, masing-masing toko buku independen mempunyai cara kurasi tersendiri. Buku-buku yang dijual sangat layak dibaca dan bermutu loh.

Manfaat Toko Buku Independen bagi pembaca

Tidak adil memang, menilai sebuah toko buku. Tapi,,, Tapi,,, Tapi… Sadarkah minat baca belakang ini sudah menurun jauh, solusinya adalah satunya, ya ini, Toko Buku Independen.

Toko Buku Independen sangat bermanfaat sekali, apalagi yang kurang berminat membaca, bagi pembaca pemula, dan bagi yang tidak ingin terjebak dalam arus utama buku. Tidak melulu berkutat pada buku yang best seller.

Sebagai contoh, ada judul buku yang selalu dibaca dari masa ke masa, misal karya George Orwell – 1984, buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1949, dan terus dibaca orang-orang hingga kini. Bisa dibilang buku karya George Orwell 1984 adalah salah satu buku yang wajib dibaca seumur hidup kita.

Inilah manfaat toko buku independen; kita akan mendapatkan dengan mudah buku-buku yang layak dibaca. 

Toko Buku Indipenden Online

Toko buku indipenden sebenarnya sudah merambah penjualan online sejak dulu. Tidak dipungkiri menjual secara online adalah salah satu strategi mengikuti perkembangan zaman.

Ada banyak toko buku Independen yang menjual secara online, baik yang menggunakan media sosial dan marketplace. ini ada beberapa daftar nama toko yang bisa diketahui :

  • Post Santa
  • Berdikari
  • Dema Buku
  • Buku Akik

Kesemua toko buku tersebut sangat mencintai buku dan senang berbagi referensi buku untuk dibaca. Asyikan, tidak perlu repot memikirkan banyak hal, mereka telah menyediakan referensi bagi kita semua.

Lihat Juga : Kenapa Harus Membaca Buku.

Menjelajahi buku on demand

printed musical note page
Photo by Pixabay on Pexels.com

Prakata

Membuat sebuah buku dari dulu membutuhkan waktu yang cukup lama, ada proses cetak isi, kemudian cetak cover, laminasi cover, proses jilid, pemotongan buku, lalu berakhir di pengemasan plastik shrink.

Sejak awal, proses percetakan buku menggunakan sistem cetak offset dari masa ke masa. Baru belakangan ini cetak digital merambah ke dalam industri cetak Indonesia.

Cetak digital sendiri adalah adaptasi mesin printer konvensional (rumahan dan kantor) menjadi skala industri. Yang tadinya printer berukuran kecil, sekarang menjadi berukuran besar.

Kita cukup membayangkan, printer yang ada dirumah anda berukuran 20 kali lipat besarnya dan lebih berkali-kali lebih cepat.

Industri cetak digital mengenalkan platform “Print on demand”, yang berarti mencetak sesuai dengan permintaan. Mau sedikit atau jumlah banyak tidak masalah sama sekali.

Nah, kalau untuk buku yang dapat mencetak buku sesuai permintaan disebut “Book On Demand” atau “Buku On Demand”.

Bagaimana cara cetak buku on demand bekerja?

Pertama, cetak isi buku dahulu, lalu menghitung tebal buku untuk persiapan cetak cover. setelah cover selesai dicetak langsung dilaminasi. Kemudian proses penjilidan buku, pemotong buku sesuai ukuran, terakhir packing buku. Selesai deh.

Cara cetak on demand sangat sederhana, cukup dengan file yang sudah tersusun rapi, langsung cetak saja. Persis seperti print dirumah saja.

Buku on demand, apa saja yang perlu diketahui?

  • Tidak perlu cetak banyak, satu buku saja bisa dicetak
  • Kualitas cetaknya setara atau sama dengan kualitas cetak offset
  • Efesien dari segi waktu dan tenaga
  • Hemat biaya cetak
Lihat juga : Harga Cetak Buku Print On Demand.

Cetak buku on demand vs cetak buku offset.

Nah ini yang paling rumit, bicara kualitas sama. Lalu manakah yang lebih baik? Kedua sama-sama baik dan bagus sih.

  • Pertama Cetak Buku Offset itu sangat hemat biaya jika kuantitas lebih dari 1000 buku dibanding Cetak Buku On Demand.
  • Kedua Cetak Buku On Demand lebih hemat biaya jika kuantitas 1 hingga 500 buku dibanding cetak offset

Jadi Apa yang akan dipilih?

Semua itu tergantung kebutuhan anda dalam mencetak buku, kalau baru mulai memasarkan buku alangkah baik mengunakan basis cetak on demand. Kalau bukunya sudah best seller, sangat disarankan untuk mencetak dalam basis cetak offset.

Lihat Juga : Standar Ukuran Buku.

Kertas HVS itu berbeda dengan A4

black and white business career close up
Photo by Pixabay on Pexels.com

Masalah HVS

Dari awal kami membuka Print Shop, banyak customer kami mengatakan “printnya dikertas hvs ya bang”, lalu kami balik bertanya, “ukuran kertasnya?”. Customer itu dengan sigap menjawab; ” masak ukuran hvs tidak tahu sih, hvs ya hvs”.

Memang benar banyak orang mengira, HVS itu sudah mempunyai ukuran tersendiri. Tapi itu salah besar ya.

Istilah HVS itu menunjukkan kepada penggunaan jenis kertas.

Pengertian HVS

HVS adalah singkatan dari bahasa Belanda yaitu HourVrij Schrijfpapier, yang berarti kertas tulis bebas serat kayu. Ciri utama dari kertas HVS sendiri adalah berwarna putih, tidak licin, dan uncoated (tidak memiliki lapisan lilin).

Penggunaannya kertas HVS ini mulai dari sekolah hingga perkantoran. Dari penggunaan surat menyurat, sampai isi buku.

Mengenai ketebalan kertas HVS juga variatif dari 60 gsm, 70 gsm, 75 gsm, 80 gsm, dan 100 gsm.

Bagaimana dengan A4 sendiri?

A4 adalah nama salah satu dari ukuran kertas, yang memiliki ukuran 21 cm x 29,7 cm. A4 sendiri adalah salah satu ukuran kertas yang terbanyak digunakan masyarakat kita.

Istilah A4 itu menunjukkan kepada penggunaan ukuran kertas.

Dari sekolah hingga ke perkantoran, umum menggunakan ukuran kertas A4 ini, salah satu ukuran kertas yang paling standar.

Seluruh toko kertas dan toko ATK, pasti menjual kertas HVS ukuran ini.

Lihat juga : ukuran kertas HVS 

Kesimpulan

Antara HVS dan A4 itu berbeda jauh, HVS sendiri merujuk kepada jenis kertas dan  A4 merujuk kepada ukuran dimensi kertas.

Jangan sampai salah kaprah mengenai HVS dan A4. Keduanya adalah hal berbeda sekali, seperti langit dan bumi.